[REUNI KECIL]
“Kau tahu kan kalau Moirai pasti akan sangat marah kepadamu?” ujar seorang pemuda pada pemuda lain di sebelahnya yang bersikap seperti acuh terhadap semua kemungkinan yang bisa terjadi pada kelangsugan eksistensinya.
Pemuda yang diajak bicara itu hanya mengangguk singkat, lalu berkata dengan santai, “Aku tahu kakek tua itu pasti memakiku nanti. Aku sudah menyiapkan mentalku. Lagipula, aku senang melihat wajah Pieter semalam. Setidaknya itu membuktikan kalau dia belum cukup becus menjalankan tugasnya.” Kemudian pemuda itu malah tertawa.
“Kau benar-benar luar biasa.” balas si pemuda yang satu lagi, bukan sebuah pujian tentu saja.
“Aku memang luar biasa.” Samael kini tertawa makin lebar.
“Jadi, kita masuk sekarang?” tanya Dean ragu sambil melirik ke arah bangunan besar yang kini sudah berada di depan mereka berdua. Sebuah bangunan tua besar yang tersembunyi di balik perlindungan pepohonan lebat jauh dari keramaian kota—Larchangela terutama. Sebuah bangunan berbentuk seperti rumah tak terurus dan terbengkalai selama berpuluh-puluh tahun.
Banyak tanaman-tanaman dan rumput liar menjalari bangunan tersebut. Salah satu pondasi di bagian depannya sudah bobrok seperti akan segera hancur bila kau menyentuhnya sedikit saja. Tentu saja sebenarnya bangunan itu sangat kuat sekali. Tampilan luar sepereti itu hanya untuk mencegah para manusia agar tidak berani melangkahkan kakinya ke dalam sana. Padahal yang sebenarnya, bagian dalam bangunan itu sangatlah megah. Sangat-sangat berbeda dengan yang terlihat dari luar.
“Tidak, tunggu sebentar lagi. Semuanya belum hadir.” Balas Samael singkat lalu akhirnya menyandarkan tubuhnya ke sebuah pohon besar sambil terus memperhatikan pintu masuk bangunan yang selama ini selalu ia sebut sebagai rumah.
“Kali ini kau sangat tidak biasa,” ujar Dean tiba-tiba. Matanya yang mengantuk memperhatikan Samael dengan seksama, “Apa yang istimewa dari gadis itu? Bukankah dia sama saja dengan semua gadis yang ada? Kenapa kau bisa sangat tertarik padanya?”
Samael mengalihkan pandangannya, kali ini tertuju pada Dean yang sedang menatapnya lekat-lekat, “Entahlah… Aku tidak tahu pasti.” Jawab Samael. Keraguan terlihat jelas dari pancaran kedua bola matanya.
“Tapi kau tahu betul peraturannya, bukan? Kita dilarang keras berhubungan dengan manusia. Kalau sampai masalah ini jadi besar…”
“Tenang saja, Dean.” Potong Samael, “Aku tidak bermaksud berhubungan dengannya. Aku hanya belum siap…” lalu Samael kembali membuang pandangannya. Kali ini menerawang jauh entah ke mana.
“Apa? Melakukan tugasmu? Samael, kau sudah melewati beberapa hari dan tugas mudah seperti itu saja bahkan belum sanggup kau selesaikan. Tidak mungkin Moirai akan mempercayaimu untuk melakukan tugas yang lainnya kalu kau terus-terusan seperti ini. Pieter kini jauh lebih unggul daripadamu!” Dean menggeram kesal setelah menyelesaikan kata-katanya, “Lagipula darimana kau pikir kita bisa mengambil kekuatan dan kehidupan jika bukan dari para manusia itu?” Dean melanjutkan kata-katanya.
Samael hanya menghela napas sekali, menengadahkan kepalanya ke atas, seperti berusaha menikmati pemandangan langit malam yang cerah dan penuh bintang. Pemandangan yang sudah jarang sekali ia lihat akhir-akhir ini.
“Apa?” Dean meminta pejelasan, tapi Samael masih tetap membisu.
“Kuberitahu padamu, Sam. Aku mulai tidak menyukai ke mana masalah ini akan berujung.” Dean ikut-ikutan menghela napas, “Kau tahu dari dulu posisimu masih belum aman. Kau tahu Pieter…”
“Aku tahu, Dean! Cukup. Terima kasih, aku masih ingat dengan jelas di mana posisiku sekarang. Sudah kubilang, aku hanya belum siap.” Tiba-tiba saja Samael langsung membentak Dean. Wajah Samael kini terlihat semakin muram.
Dean sudah membungkam mulutnya, sedikit merasa bersalah dengan kata-katanya barusan pada Samael.
“Sudah hampir pukul delapan malam.” Kata Samael akhirnya, kembali membuka mulut, “Kurasa kita sudah harus masuk sekarang.”
Dean mengangguk singkat, lalu mulai berjalan memasuki bangunan tua yang sedari tadi berdiri kokoh di hadapan mereka berdua. Angin bertiup pelan, membuat dedaunan pada pohon-pohon bergemirisik karena saling bergesekan satu sama lain.
Mereka berdua tahu, kini semuanya sudah hadir di dalam sana, mereka semua punya pintu masuk masing-masing untuk bisa sampai ke dalam rumah tersebut.
“Apapun yang terjadi malam ini, kau harus tetap tahu aku akan selalu tetap di pihakmu, Sam.” Ujar Dean sambil menepuk bahu Samael sementara Samael sudah tersenyum karenanya.
“Apapun yang terjadi malam ini, aku akan tetap menganggapmu bodoh karena secara sadar masih berani mendukungku, Dean.” Kali ini Dean sudah tertawa mendengar ucapan Samael.
Lalu tanpa menunggu waktu berdetak lebih lama, mereka berjalan masuk.
***
Pintu berderit agak keras saat Samael membuka pintu masuk. Tapi tentu saja mereka berdua tidak peduli. Mereka tetap melangkah masuk dengan santai. Samael lalu menyebarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Lampu gantung yang indah di langit-langit, gorden berwarna merah marun menghiasi seluruh jendela ruangan, serta lukisan-lukisan indah hasil karya para manusia yang tertempel di segala penjuru dinding. Sungguh, betapa apiknya Moirai mengatur semua ini dan tetap berhasil menyembunyikan keindahan bangunan ini selama beratus-ratus tahun dari para manusia itu. Tanpa bisa menyembunyikan rasa kagumnya, Samael terus berjalan menuju ke ruang pertemuan tempat di mana semuanya sudah menunggu.
“Lihat siapa yang datang malam ini!” Seruan keras langsung terdengar memenuhi seisi ruangan saat Samael dan Dean melangkah menuju undak-undakan tangga. Seorang pria berjubah hitam dengan topeng berupa wajah orang tertawa yang terpasang di wajahnya langsung menyambut mereka dengan ramah. Dean memicingkan matanya. Dia tahu benar kalau orang yang di depannya ini berbahaya.
“Selamat malam, Eris.” Sapa Samael acuh sambil terus melangkah. Dean mengikuti Samael, ia tidak mau kalau sampai harus berurusan dengan pria yang satu itu. Tidak lagi setelah masalah terakhir yang sudah pernah disebabkan olehnya.
“Oh ayolah Samael, jangan terlalalu formal. Panggil saja aku seperti biasa. Dexter. Ya, panggil saja aku seperti itu, aku sama sekali tidak keberatan.” Pria bernama Dexter itu masih tetap mengikuti ke mana Samael melangkah.
“Baiklah Dexter, apa maumu?” Tanya Samael akhirnya, lalu dia berhenti melangkah. Dexter sudah terkekeh-kekeh kali ini.
“Kudengar kau berhasil menggagalkam aksi Pieter? Kau pasti sangat hebat sampai bisa melakukan hal tersebut!” kali ini Dexter sudah berseru keras dari balik topengnya wajah tertawa miliknya yang masih ia kenakan untuk menutupi wajahnya, “Tapi kudengar juga kalau kau masih belum berhasil menjalankan tugasmu yang satu itu. Ah, sungguh disayangkan sekali. Aku tahu betul itu pasti bukan kesalahanmu. Itu kesalahan Dean yang tidak becus menjalankan perintah darimu, aku benar tidak?” sekarang Dexter menoleh ke arah Dean, seperti sedang menghinanya secara tidak langsung dengan mengarahkan topeng yang dia kenakan kepada Dean.
“Apa kau bilang?!” seru Dean keras, “Itu bukan salahku, itu salahnya!” lalu Dean membentak ke arah Samael. Emosinya seperti sudah sampai ke ubun-ubun. Dapat disimpulkan kalau baru saja Eris berhasil lagi mempermainkan Dean yang polos.
“Dean,” Samael kembali bersuara, “Kau tahu betul kalau apa yang dikatakannya adalah salah bukan?” Dean hampir saja akan naik pitam lagi kalau saja Samael tidak mengingatkannya.
“Eris, hentikan apapun yang sedang kau lakukan. Jangan coba membangun perselisihan di antara kami, aku sedang tidak ada waktu untuk hal bodoh seperti ini.” Samael berkata datar lalu kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat tertunda.
“Aku akan terus mencoba sampai bisa mendapatkanmu, keponakanku.” Kemudia Dexter sudah tertawa-tawa keras sementara Dean sudah memaki-maki Dexter sambil kembali berjalan mengekor di belakang Samael.
“Sial! Sampai kapan aku akan terus terkena jebakan pengadu domba itu?!” Dean berkata geram.
“Kurasa itu karena kau kelelahan Dean, maafkan aku. Kau belum tidur lagi sejak target kita yang terakhir itu, benar?”
Dean segera menggeleng, “Tidak, aku yakin bukan karena itu. Aku saja yang kurang bisa mengontrol diriku sendiri, atau memang Eris yang seudah semakin ahli dalam pekerjaannya akhir-akhir ini.”
Samael tersenyum, “Atau itu memang karena kau yang terlalu polos sehingga dia selalu tertarik padamu dan berusaha untuk selalu menjebakmu.”
Dean melirik galak ke arah Samael, “Oh, diamlah Sam.”
Samael lalu tertawa-tawa selama beberapa detik, sebelum akhirnya berjalan menaiki tangga menuju ke atas, tempat di mana pertemuan sedang berlangsung malam ini. Mereka berjalan lambat-lambat. Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua.
Entahlah, Samael merasa kalau hal buruk akan terjadi malam ini di pertemuan. Entah ia yang akan dimaki habis-habisan oleh kakeknya, Moirai, atau ia akan kembali membuat ayahnya murka dan ibunya malu. Samael tidak berani menerka-nerka.
Sesampainya mereka di atas, mereka lagi-lagi disambut, kali ini oleh seorang perempuan muda berwajah putih pucat dan bermata sendu. Bola matanya yang berwarna topaz seperti menelusuri Samael yang berjalan makin dekat ke arahnya. Perempuan itu lalu tersenyum manis ke arah Samael. Wajah cantiknya yang tidak manusiawi kini terlihat semakin indah dan menawan.
“Samael. Kupikir kau tidak akan datang. Setelah apa yang kau perbuat pada kakakku itu, aku sungguh salut padamu karena kau tidak lari dan berubah menjadi mahluk yang pengecut.” Lalu dia tertawa pelan dengan anggun sambil menggamit lengan Samael lalu berjalan berdampingan dengan Samael menuju ruang pertemuan.
Dean mengawasi mereka berdua dari belakang. Lagi-lagi sosok yang berbahaya muncul. Begitu pikirnya getir.
“Apa maumu, Apate?” Samael berkata sinis pada gadis manis tersebut. Tapi gadis itu tidak marah. Dia malah tertawa sambil lalu memainkan rambut pirang bergelombang miliknya dengan jarinya sendiri.
“Oh, Samael. Jangan terlalu kaku. Kau tahu kan kita sedang menjalankan tugas. Tidak perlu kau panggil aku seperti itu.”
Dean yang mengekor di belakang sudah menggeram kesal, “Laura, sudahlah. Jangan ganggu Samael. Sekuat apapun kau mencoba, dia tetap tidak akan pernah tertarik padamu.” Kata-kata Dean tersebut sukses membuat Laura mendelik tajam ke arah Dean lalu mendengus kesal.
“Tentu saja Samael pasti tertarik padaku, bukankah begitu, Samael?” katanya manja sambil lebih mendekatkan tubuhnya pada Samael yang masih bersikap acuh.
Samael melirik sekilas ke arah Laura lalu segera berkata, “Tidak, Dean benar. Aku tidak dan tidak akan pernah tertarik padamu apa pun yang terjadi. Sekarang, lepaskan aku. Aku harus segera ke ruang pertemuan.”
Dean sudah tertawa-tawa geli sementara Laura mendengus lalu segera menjauh dari Samael.
“Kau tidak perlu datang ke pertemuan. Pertemuan sudah selesai sejak satu jam yang lalu.” Kemudian Laura mencibir lalu membuang wajahnya.
“APA?!” Dean langsung berhenti tertawa dan berseru dengan keras sementara Samael sudah menghela napasnya.
“Tentu saja tidak, Dean. Dia berusaha menipu kita. Apa kau tidak ingat kalau dia itu Apate?” Samael berujar dengan nada datar yang segera membuat Dean menepuk-nepuk jidatnya pelan. Malam ini dia sudah terkena dua jebakan sekaligus. Sementara itu, Apate yang sedang dibicarakan sudah melengos pergi karena kesal dan geram.
“Baiklah, sudah cukup main-mainnya. Kita harus segera ke ruang pertemuan.” Samael kembali bersuara lalu melanjtukan langkahnya yang tadi sempat terhenti. Dean kembali mengekor di belakang Samael.
Dan, itu dia. Pintu menuju ruang pertemuan. Pintu kayu berukuran besar yang mempunyai ukiran-ukiran dengan bentuk yang rumit terbentuk di atasnya. Samael yang sudah berada di depan pintu tersebut berdiri kaku. Setengah ragu akan membuka pintu tersebut atau tidak.
“Kau sudah siap, Thanatos?” tanya Dean yang berada di sisi kanan Samael. Tapi sosok Dean yang sekarang sudah berubah. Tidak ada lagi bentuk manusia yang seperti biasanya. Hanya ada sosok berjubah hitam panjang hingga menyentuh lantai.
“Kurasa, aku harus dipaksa untuk siap bukan?” Samael tertawa.
Sedetik kemudian, api hitam sudah tersulut dari tubuhnya sendiri. Pertama hanya berasal dari jari-jari di tangannya. Kemudian merambat ke atas hingga ke badannya, ke kepalanya, turun ke kakinya, semuanya. Tak lama sosok manusia bermata hitam itu hilang. Berganti dengan sosok berjubah hitam seiring dengan nyala api hitam yang mulai menghilang perlahan-lahan.
“Ayo kita masuk, Hypnos.” Ujar Samael lalu menyentuh gagang pintu dengan tangannya dan membukanya.
***
Moirai menggeram kesal. Dia duduk di atas singgasana keciln sambil memilin-milin janggutnya yang berwarna putih. Menunggu adalah hal yang paling tidak ia sukai. Sepanjang eksistensinya yang beribu tahunnya, menunggu adalah hal yang palig ia kutuk.
“Mana Thanatos?!” Untuk kesekian kalinya ia berseru kepada semua yang hadir di pertemuan kala itu. Moirai kini melirik ke arah Nyx yang berada tak jauh darinya. Wanita cantik bergaun hitam itu hanya bisa bergedik ngeri saat mata Moirai tertuju ke arahnya.
“Di mana Thanatos?! Di mana anakmu, Nyx?!” Moirai kembali mengeluarkan suara keras.
Baru saja Nyx akan membuka mulutnya, saat tiba-tiba pintu masuk ruang pertemuan berderit dan Thanatos muncul dari sana, “Aku di sini, kakek.” Ujar sosok berjubah dan bertudung hitam itu sambil melangkahkan kakinya mendekat ke singgasana Moirai. Di belakangnya, Hypnos mengikuti dengan langkah tanpa suara.
“Harus berapa lama aku menunggu kalian?!” Bentak Moirai geram. Wajahnya yang telah menua terlihat lebih menyeramkan daripada biasanya.
“Mungkin tadi mereka sibuk menganggu tugas yang lainnya.” Ker yang sedang bersandar pada dinding ruangan mengeluarkan suara. Wajahnya yang tanpa balutan daging tidak terlalu terlihat karena tertutup tudung yang sedang ia kenakan.
“Jaga bicaramu, Ker!” Thanatos menggeram sambil mengacungkan jarinya ke arah Ker yang sudah tertawa-tawa kecil.
“DIAM!” Moirai berteriak keras, suaranya menggelegar hingga membuat ruang pertemuan menjadi agak bergetar saking kerasnya. Keheningan langsung melanda seisi ruangan, “Aku meminta kalian berkumpul di sini bukan untuk saling berselisih! Eris, apa itu perbuatanmu barusan?!” pandangan Moirai kini tertuju pada Eris yang sedang berdiri kaku di dekat jendela.
“Apa? Tentu saja tidak, Ayah. Aku tidak melakukan apapun. Itu mereka sendiri yang menyulutnya.” Kemudian Eris tertawa-tawa pelan. Sementara Hypnos diam-diam melirik ke arah Eris.
‘Darimana lelaki itu bisa sampai di sini secepat itu?!’ Hypnos membatin.
“Ayah, sudahlah. Lebih baik kita mulai saja pertemuan ini. Apa? Apa yang ingin kau bicarakan?” kali ini Erebos yang bersuara. Nemesis yang berdiri berdampingan dengan Ker langsung menoleh ke arah Erebos.
Moirai berdeham pelan sebelum akhirnya kembali membuka mulut “Aku menginginkan kalian semua datang ke tempat ini karena aku ingin memberi tugas-tugas baru pada kalian semua. Sudah waktunya takdir para manusia itu kembali ditentukan.”
Thanatos mendengus. Ia tahu apa maksud dari ucapan kakek tua itu, dia paham betul. Akan ada lebih banyak manusia yang nanti akan ia jemput. Akan ada lebih banyak manusia lagi yang nantinya akan kembali menderita saat semua berhasil melakukan tugasnya dengan baik. Akan ada kesengsaraan, keputusasaan, tangisan pilu, perpisahan, perpecahan. Siklus memilukan itu akan kembali terulang, dan semua itu berkat Moirai, sang penguasa takdir.
“Eris dan Erebos, kemarilah kalian, mendekat.” Moirai berkata sambil mengayunkan tangannya yang renta dan tua perlahan di depan tubuhnya. Lalu Eris dan Erebos melangkah maju, lalu saling berdiri berdampingan sementara Moirai kembali membuka mulutnya, “Eris, pergilah ke timur sebarkan perselisihan di sana. Lebih banyak persilisihan. Erebos, kau ikut menemani Eris. Bantu Eris menyelesaikan tugasnya. Sebarkan kegelapan yang banyak. Buat para manusia itu ketakutan.”
Eris dan Erebos lalu mengangguk dan segera bergegas pergi dari ruangan tanpa berkata apapun lagi. Itu tugas yang sangat mudah bagi mereka berdua. Tidak akan butuh waktu lama untuk menyelesaikan tugas ringan tersebut.
Moirai kini memanggil Nemesis dan Nyx untuk majudan menghadapnya, “Kalian… Aku ingin kalian bekerja bersama-sama kali ini. Nemesis, bantu para manusia itu yang ingin membalaskan dendamnya. Dan Nyx, buat malam agar berjalan lebih lambat dari yang biasanya agar para pendendam itu semakin leluasa melakukan yang mereka mau.” Tanpa membantah Nemesis dan Nyx juga langsung melangkah pergi.
“Apa kau yakin ibumu akan baik-baik saja dengan…” Hypnos berbisik ke Thanatos yang sedang berdiri kaku di sebelahnya, “Maksudku, Nemesis itu…”
“Aku tahu. Pieter adalah anak dari Nemesis. Tenang saja, ia tidak akan apa-apa.” Thanatos membalas dengan cepat, lalu matanya kini kembali tertuju pada Moirai yang sudah melirik ke arahnya.
“Kau. Kalian berdua. Thanatos dan Hypnos. Kemari!” Suara Moirai kini berubah jadi keras kembali. Thanatos lalu melangkah cepat ke depan Moirai sementara Hypnos berjalan dengan takut-takut.
“Aku tahu kau pasti akan marah.” Thanatos mengeluarkan suara, membuat Moirai langsung melotot tajam ke arahnya.
“Tentu saja aku marah!” dia kembali membentak, “Kau sudah menunda tugasmu selama berhari-hari dan kemarin kau menganggu tugas yang akan dilakukan oleh Ker! Apa maksud dari semua itu, anak muda?!”
“Soal tugasku itu, aku pasti akan melakukannya. Kau tidak perlu khawatir.” Ujar Thanatos tanpa gentar, “Lalu soal Ker. Tidak, akuk tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin melakukannya. Itu saja. Lagipula dengan begitu aku dapat membuktikan kalau ternyata Ker tidaklah lebih kuat daripadaku. Kalau tidak, tidak mungkin ia dapat kuhalau dengan mudah saat ia sedang melakukan tugas kecilnya itu?” Kemudian Thanatos tersenyum sinis sambil langsung melemparkan pandangan matanya ke arah Ker yang sudah menggeram kesal menahan amarah.
“OMONG KOSONG, THANATOS!” Ker berteriak keras.Kelihatan sekali kalau Thanatos berhasil memancing keluar emosinya.
“Hentikan, Ker! Hentikan!” Moirai menggeram kesal, “Jangan paksa aku untuk melakukan hal yang buruk terhadap kalian berdua.” Ancam Moirai. Ker langsung berusaha menurunkan emosinya. Ia tahu, sangat tahu kalau Moirai sangat serius dengan perkataannya.
“Jadi, katakan saja apa maumu, Moirai?” Thanatos membuka mulutnya.
Moirai berdeham pelan sebelum akhirnya berbicara, “Aku hanya akan memberi kalian tugas seperti biasa. Ker, kau selesaikan tugasmu yang sempat tertunda oleh Thanatos. Kali ini jangan biarkan siapa pun menggagalkannya.” Ker mengangguk sekali, lalu bergegas kelua dari ruangan, Ker sudah sangat muak harus berdiri berdampingan dengan Thanatos yang selalu saja berusaha merebut semua kesenangannya.
Sementara Ker telah keluar dari ruangan, mata tajam milik Moirai kini sudah tertuju ke arah Thanatos, “Dan kau… Secepatnya kau harus menyelesaikan tugasmu itu. Atau aku akan menyuruh Ker yang menyelesaikannya untukmu.”
Thanatos menggeram mendengar nama Ker disebut. Marah? Tentu saja ia marah.Mana mungkin ia mau kalau tugas yang telah diberikan padanya diserahkan pada Ker untuk diselesaikan? Tidak, Thanatos tidak akan membiarkannya.
“Baiklah, akan aku lakuakan. Hanya saja… beri aku untuk mempersiapkan diri. Satu atau dua minggu.”
Moirai menghela napasnya, lalu mengangguk, “Baiklah. Aku beri kau waktu. Jangan menundanya lagi. Atau seluruh garis takdir yang sudah kubuat akan menjadi berantakan. Kau mengerti, Thanatos?”
Thanatos mengangguk sekali, lalu segera berjalan menuju pintu tanpa bicara sedikit pun. Meraih gagang pintu, lalu segera melangkah keluar bersama dengan Hypnos yang masih saja mengekor di belakangnya.
Begitu keluar dari ruang pertemuan, mereka langsung berubah kembali menjadi sosok manusia. Dengan sosok seperti ini, kecemasan yang muncul di wajah Samael kini terlihat lebih jelas, “Apa kau yakin waktu tersebut akan cukup untukmu?” Dean berujar prihatin sambil memperhatikan Samael yang membisu.
“Sejujurnya… tidak sama sekali. Aku tidak yakin waktu tersebut akan cukup. Tapi bila aku tidak melakukannya, maka Ker akan…”
“Tenang saja. Aku akan membantumu mencari jalan keluarnya. Sekarang, lebih baik kita segera keluar dari tempat ini.” Usul Dean lalu segera berjalan perlahan. Samael mengikuti di sampingnya, kembali diam seribu bahasa.
Entah apa yang harus dilakukannya kali ini.
***