BAB 6

BAB 6

[SERANGAN]

Musik masih mengalun di telingaku saat aku melirik jam dinding yang berada di sudut ruangan. Pukul sebelas tepat. Sudah seharusnya aku pulang. Dad pasti khawatir sekali.

Aku menolehkan kepalaku ke sekeliling ruangan mencari-cari sosok Claudia yang tidak kelihatan lagi sejak dua puluh menit yang lalu.

Aku harus segera pulang. Di mana Claudia?

“Hei cantik,” sebuah suara berbisik di telingaku. Begitu aku menoleh, bau alkohol langsung menampar penciumanku, “Kau lihat aksiku tadi kan? Itu keren sekali bukan?” Kemudian dia terkekeh.

Jared.

“Uh.. Ya, keren sekali. Jared, apa kau melihat Claudia? Aku mencarinya, aku ingin segera pulang.” Aku bergeser beberapa senti menjauh dari Jared. Ini kali pertama aku menghadapi orang mabuk. Aku tidak tahu harus berbuat apa.

“Pulanglah denganku, aku sendiri yang akan mengantarmu. Mobilku ada di luar sana, kalau kau mau, kita bisa… Sedikit bersenang-senang dulu sebelum ke rumahmu.” Jared bergerak mendekat. Napasnya yang beraroma alkohol kembali menampar kesadaranku.

Aku bergegas bangkit dan meninggalkan Jared yang kini sudah tertawa-tawa dengan cukup keras. Beberapa orang kini sudah melirik ke arahnya.

Aku tidak peduli, aku harus segera keluar dari sini. Aku harus menemukan Claudia.
Aku melangkah keluar dari Redmid dan tergesa menuju mobil Claudia yang terpakir tak jauh dari pintu masuk.

Udara dingin segera saja menusuk kulitku yang tak terlindungi apa pun. Aku tahu, seharusnya tadi aku membawa sweater atau semacamnya sebelum datang ke tempat ini. Sial.

Aku masih menggerutu saat mataku tak sengaja menangkap sosok Claudia tengah berbincang-bincang dengan seorang pria asing tepat di sebelah mobilnya.
Claudia kelihatan bahagia sekali saat berbincang dengan pria itu. Tapi aku masih belum bisa melihat dengan jelas siapa pria itu. Aku ingin sekali menghampiri mereka untuk melihat lebih dekat sekaligus mengajak Claudia untuk pulang tapi tentu saja itu tidak mungkin. Aku tidak mau menganggu kesenangannya.

Baru saja aku ingin berbalik dan kembali masuk ke dalam Redmid untuk menunggu Claudia di dalam sana saat tiba-tiba seseorang menahan langkahku.

“Kalau aku jadi kau, aku tidak akan masuk lagi ke dalam sana dan berhadapan dengan pria mabuk tadi.” Suara Samael yang tegas dan menggoda seakan menghipnotisku untuk berhenti melangkah. Segera kuurungkan niatku untuk kembali ke sana.

“Kukira kau sudah pergi.” Aku menatapnya dengan rasa ingin tahu yang sangat luar biasa besarnya. Kenapa pria ini begitu misterius? Begitu… Membuatku tertarik?

“Dengar Elena, kau harus segera pulang. Pergi dari sini dan ajak temanmu itu pergi. Diam di sini tidak aman untukmu, atau pun dirinya.” Pandangan mata Samael kini sudah tertuju ke arah Claudia yang masih saja berbincang dengan pemuda asing itu.

Entah hanya perasaanku atau bukan, tapi baru saja pemuda asing itu menolehkan pandangannya sekilas ke arahku dan langsung membuatku merinding seketika.
Itu pemuda bermata elang yang tadi kulihat di dalam Redmid!

“Tapi Claudia sedang…”

“Kau harus cepat pergi! Tak usah pedulikan pemuda yang sedang berbincang dengan temanmu itu! Dia berbahaya! Cepat, pergi!” Perintah Samael sambil mendorongku perlahan untuk segera menghampiri Claudia dan memintanya pergi dari tempat ini.

Entah kenapa aku menurut dan melangkahkan kaki ke arah Claudia.
Claudia menangkap sosokku dari sudut matanya lalu segera menyapaku riang, “Ah, Elena! Maafkan aku sempat meninggalkanmu. Bagaimana acara di dalam? Seru bukan?” Aku mengangguk singkat dengan perasaan was-was yang tak jelas karena sekarang pemuda bermata elang itu tengah menatap tajam ke arahku. Dengan jarak sedekat ini, aku rasa aku tidak akan bisa bertahan lama-lama.

“Aku ingin pulang. Dad pasti sudah khawatir. Aku tidak pernah pergi sampai selarut ini sebelumnya.” Aku mengutarakan maksudku sambil menundukkan wajahku. Aku tidak mau bertemu mata dengan pemuda itu.

“Baiklah Elena, ayo kita pergi. Aku akan mengantarmu.” Ujar Claudia sambil mengeluarkan kunci mobil dari tas kecil miliknya.

“Kurasa… Ini waktunya perpisahan, benar?” Pemuda itu akhirnya bersuara. Aku memberanikan diri untuk menengadahkan kepalaku dan menyaksikan pemuda bermata elang itu sedang menelusuri Claudia dengan tatapannya.

Claudia tertawa, “Kita pasti bertemu lagi, Pieter. Tak perlu khawatir.” Kemudian Claudia berjalan ke pintu mobilnya dan membuka kuncinya.

“Bagaimana kau bisa yakin sekali kita akan bertemu lagi?” Tanya si mata elang yang baru kuketahui bernama Pieter tersebut.

“Karena aku yang bilang seperti itu.” Claudia tertawa sekali lagi, “Ayo masuk Elena.” Kemudian dia masuk ke dalam mobil dan menstarter mobilnya.

Aku membuka pintu mobil Claudia dengan gemetar karena sekarang pemuda asing ini kini berada tepat di sebelahku, kali ini menatapku tajam seperti ingin memakanku hidup-hidup.

“Kau… Elena?” Tanyanya tiba-tiba. Aku langsung bergidik mendengarnya.

“Ya, itu namaku.” Jawabku gugup sambil memberanikan diri menatap ke dalam matanya.

Pieter kemudian tertawa, “Samael sungguh beruntung.”

“Maksudmu?”

“Elena? Ayo!” Seru Claudia dari dalam mobilnya.

“Kau tidak akan mengerti.” Balasnya sambil tersenyum.

Aku tidak balas menanggapinya. Aku malah langsung bergegas masuk ke dalam mobil saking gugupnya.

Begitu masuk ke dalam mobil, Claudia langsung menderukan mobilnya dan segera keluar ke jalanan, menjauh dari Redmid.

“Kau lihat pria tadi? Kau lihat? Dia sungguh manis bukan?! Ah, malam ini benar-benar sempurna!” Claudia berseru-seru histeris sambil menyetir.

“Siapa laki-laki tadi?” Tanyaku.

“Pieter Burns! Dia datang dari kota lain di dekat sini, ah aku tidak sempat menanyakannya. Intinya, dia sedang berlibur di sini dan akan menetap di Larchangela selama beberapa minggu. Dia menginap di motel tak jauh dari Redmid.” Katanya antusias.

“Berlibur? Dia tidak bersekolah atau…”

“Dia di universitas sekarang. Sedang mengambil cuti.” Jawab Claudia.

“Tapi dia terlihat masih seumuran dengan kita.”

“Iya, aku tahu itu! Dia beberapa kali ikut program akselerasi sehingga ia bisa lebih cepat masuk universitas! Aku tidak bisa membayangkan betapa jeniusnya dia!” Kini kulihat wajah Claudia sudah bersemu merah. Aku tersenyum.

“Kau sangat menyukainya, benar?”

“Hehe…” Claudia hanya membalas ucapanku dengan tawa. Dapat kusimpulkan kalau tebakanku benar. Rasanya senang sekali melihat raut kebahagiaan orang lain.

“Kau senang malam ini?” Tanya Claudia dengan nada girang.

Aku mengangguk, “Ya, tidak terlalu buruk.”
Gara-gara datang ke Redmid, aku bisa kembali bertemu dengan Samael. Aku melanjtukan ucapanku dalam hati.

“Aku senang kau bisa bertemu dan berkenalan dengan banyak orang. Kadangkala, jadi seorang pendatang baru tidak terlalu menyenangkan.”

“Kau baru di kota ini?” Tanyaku. Claudia mengangguk.

“Sudah dua tahun, tapi ya harus kuakui beradaptasi memang proses yang sulit.” Jawabnya sambil tersenyum.

Ah, jadi itu sebabnya dia sangat peduli padaku. Karena dia juga pernah merasakan bagaimana sulitnya menjadi orang baru di lingkungan yang benar-benar baru.

Sedetik kemudian, mobil yang dikemudikan Claudia sudah berhenti. Ternyata aku sudah sampai tepat di depan rumahku.

“Yak, sudah sampai.” Ujarnya sambil membuka kunci mobil.

“Terima kasih.” Kataku akhirnya.

“Sama-sama, Elena…” Balasnya, “Terima kasih juga karena mau menemaniku ke Redmid. Kapan-kapan kita harus ke sana lagi.”

Aku mengangguk mantap, “Dengan senang hati, Cloudy.” Balasku sambil keluar dari mobil.

“Sampai jumpa besok.” Ujar Claudia singkat lalu segera menderukan mobilnya lagi. Kali ini menjauh dari pekarangan rumahku.

Aku baru saja akan berbalik dan masuk ke dalam rumahku kalau saja aku tidak melihat sosok itu muncul tiba-tiba di atas mobil merah Claudia yang semakin berjalan menjauh.

Sosok berjubah hitam. Sabit besar tergenggam di tangannya yang tidak terbalut daging atau kulit. Sosok yang sama dengan yang pernah kulihat di hari pertamaku tiba di Larchangela. Sosok yang sama dengan sosok yang telah membunuh pemuda tanggung sialan yang akan merampok aku dan Dad!

Aku menelan ludahku susah payah. Persendian lututku terasa lemas. Keringat dingin mulai mengucur di sekujur tubuhku yang mulai gemetar karena takut.

Apa?! Apa yang harus kuperbuat untuk menyelamatkan Claudia?!

***

Malam semakin larut. Sebuah mobil berwarna merah melaju cepat di jalanan. Seorang wanita berambut merah bergelombang mengemudikan mobilnya sambil tersenyum senang. Sesuatu yang menggembirakan terjadi padanya hari ini, malam ini.

Lampu sorot mobilnya menyala terang, menerangi jalanan yang hampir gelap gulita karena tidak ada satu pun lampu jalan yang menyala malam itu. Wanita itu mengernyitkan dahinya heran, tapi tidak terlalu ambil pusing soal masalah lampu tersebut. Ada hal lain yang sedang bergumul seru di dalam pikirannya sendiri.

Dia menerawang ke dalam pantulan kaca spion miliknya. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang mengawasinya, entah apa.
Nihil. Tidak ada apapun di sana. Hanya jalanan lenggang yang gelap.

Dia menelan ludahnya susah payah. Entah kenapa suasana di sekelilingnya mulai mendingin. Seluruh bulu yang ada di tubuhnya meremang tanpa sebab yang pasti. Keringat juga mulai mengucur dari tubuhnya. Sugesti aneh mulai merasuk dalam pikirannya. Dia semakin merasa kalau ada yang memperhatikan dirinya.

Sekali lagi dia menolehkan pandangannya ke dalam kaca spionnya. Tidak ada apa pun di sana. Wanita itu kemudian menghela napas lega sambil terus menfokuskan dirinya ke jalanan.

Tepat saat itu pula, dia menolehkan pandangannya sekilas ke kaca mobil sebelah kanannya, dan seketika dia langsung berteriak histeris saking kagetnya.

Sebuah sosok hitam sudah berada di samping mobilnya, seperti terbang melayang di sana. Sosok hitam bertudung yang menggenggam sebuah sabit besar di tangannya.

Wanita itu berusaha menjauh dari sosok tersebut. Dikemudikan mobilnya secara zig zag berharap bisa lepas dari kejaran sosok tersebut.

Gagal. Sosok bertudung itu masih terus mengikuti.

Tepat saat wanita berambut merah ingin mempercepat laju mobilnya, sosok bertudung itu kini sudah menampilkan wajahnya yang hanya berupa tengkorak putih tanpa kulit atau pun daging. Teriakan histeris makin kencang terdengar.

“Claudia Tesla…” Sosok berjubah hitam itu mengeluarkan suara parau yang menyeramkan sambil mengayunkan sabit besarnya jauh ke belakang tubuhnya, “Aku datang ke sini untuk…”

“KER!” Tiba-tiba terdengar seruan keras yang memekakkan telinga.

BAM!

Sosok berjubah hitam lain muncul entah dari mana dan langsung menghantam ke arah tengkorak berjubah hitam yang tadi terus mengikuti wanita berambut merah itu.

Wanita yang shock tersebut langsung membanting stirnya ke kanan, membuat mobilnya segera berputar cepat tanpa kendali hingga akhirnya membentur trotoar dengan keras.

Kepala wanita itu terasa pusing, sangat pusing. Dia menyentuh keningnya dan segera merasakan ada cairan kental dan hangat mengalir keluar dari kepalanya yang tadi sempat terbentur kaca mobil dengan keras.
Dia merintih kesakitan, tapi tak berani untuk turun dari mobilnya dan mencari pertolongan untuk dirinya sendiri.

“THANATOS!” Sosok tengkorak berjubah hitam yang tadi sempat hampir menyerangnya berseru keras pada sosok hitam lainnya yang kembali menghantamnya hingga ia terpental cukup jauh, “KENAPA KAU?! DIA BUKAN MILIKMU!” Lalu sabit besarnya teracung ke arah wanita yang masih merintih kesakitan di dalam mobilnya tersebut.

“Dia juga bukan milikmu, Ker,” Balas sosok hitam lainnya yang diserukan sebagai Thanatos, “Kau sudah terlalu banyak menjemput minggu ini.”

“Tapi bukankah itu tugas kita?!” Lalu sosok bernama Ker itu menyerang dengan brutal.

Kedua sosok hitam itu saling bergulat satu sama lain. Tidak ada yang bisa melihat pertarungan sengit mereka karena mereka bertarung dalam wujud kabut yang hitam pekat.

“Hypnos!” Suara Thanatos bergema keras, “Selesaikan tugasmu! Aku akan membawa Ker menjauh dari sini!”

Lalu seketika itu juga kabut hitam pekat itu melesat menjauh dari jalanan. Terus menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan wanita berambut merah yang semakin tidak mempercayai akal sehatnya.

“Nona,” sebuah ketukan terdengar dari pintu mobil wanita itu hingga membuatnya menoleh dengan cepat dan sedetik setelahnya langsung kembali berteriak histeris karena kini ada sosok hitam lainnya muncul tepat di sebelah mobilnya.

“Selamat tidur.” Ujar sosok itu singkat sebelum akhirnya wanita berambut merah tersebut jatuh jauh dalam ketidaksadaran.

***

Pagi ini aku mendapat kabar buruk saat tiba di sekolah. Claudia mengalami kecelakaan saat hendak pulang ke rumahnya usai mengantarkanku pulang tadi malam.

Sekarang sekolah sudah selesai dan Dad dengan senang hati mau mengantarkanku ke rumah sakit Larchangela untuk melihat bagaimana kondisi Claudia.

Aku bersyukur dia masih hidup. Aku sangat bersyukur. Aku pikir tidak ada yang bisa lari dari sosok berjubah hitam yang semalam muncul itu.

“Baru kali ini aku melihatmu begitu peduli dengan orang lain, Elena.” Ujar Dad sambil mengemudikan mobilnya.

“Apa itu hal yang buruk, Dad?” Aku balik bertanya padanya.

“Tidak, tentu saja bukan hal yang buruk, aku senang kau berubah seperti ini.” Lalu Dad terkekeh. Laju mobilnya pun sudah berhenti.

“Perubahan yang baik, benar?” Aku tersenyum sekilas ke arah Dad lalu turun dari mobil.

“Kujemput kau nanti. Aku harus kembali ke kantor, ada beberapa dokumen yang tertinggal.” Katanya sambil balas tersenyum.

“Baiklah Dad, hati-hati.” Kataku.

“Sampaikan salamku untuk temanmu itu, Elena.” Ujarnya singkat yang segera kubalas dengan anggukan kepalaku sebelum akhirnya Dad kembali melajukan mobilnya ke jalanan.

***

Aku melangkah masuk ke dalam ruangan tempat Claudia dirawat. Begitu sampai di sana, terlihat sosok Jared sedang duduk di samping Claudia yang tengah terbaring lemah di tempat tidur.

Jared menyapaku ramah sambil tersenyum ke arahku sementara aku membalasnya kaku. Kurasa ia sudah lupa dengan kejadian semalam. Diam-diam aku bersyukur dalam hati.

“Cloudy, bagaimana keadaanmu?” Tanyaku saat aku sudah berdiri tepat di sebelahnya.

“Tidak pernah lebih baik dari ini.” Katanya lemah. Wajahnya yang biasanya pucat kini semakin terlihat lebih pucat.

“Maaf,” ujarku, “Kalau saja aku tak memintamu untuk mengantarku pulang…”
Claudia tersenyum, “Tidak, Elena, ini bukan salahmu.”

“Bagaimana kejadiannya? Kenapa kau bisa sampai…” Kata-kataku sengaja aku hentikan. Sebenarnya aku ingin sekali bertanya tentang sosok berjubah hitam yang semalam aku lihat mengikuti mobilnya. Tapi kalau kutanyakan, mereka pasti akan menganggapku aneh.

Claudia kemudian menatapku dalam-dalam, setengah menerawang, “Entahlah Elena. Kejadian semalam begitu cepat, begitu terasa seperti… Mimpi.” Jawabnya.

“Kepalanya terbentur dengan keras. Dia hampir tidak ingat sama sekali kronologi kecelakaannya.” Tambah Jared lalu bangkit dari duduknya, “Cloudy, aku pergi keluar sebentar. Nanti aku pasti kembali lagi ke sini.”

Claudia menatap Jared lalu menganggukan kepalanya pelan. Lalu Jared segera keluar dari ruangan.

“Jared begitu perhatian padamu.” Kataku saat Jared sudah tidak ada, “Kurasa dia suka padamu.” Lalu aku tertawa.

“Jangan bercanda, Elena,” Claudia ikut tertawa, “Aku dan Jared sangat tidak cocok sebagai pasangan. Dulu kami berdua sudah pernah mencobanya.”

“Kau… Pernah mencoba dengan… Jared?!” Aku berseru keras. Claudia hanya tertawa mendengar reaksiku.

“Itu masa lalu, sudahlah.” Lalu Claudia tersenyum.

“Ya, tentu saja, masa lalu.”

“Elena,” panggilnya, “Kalau kau kuberitahu sesuatu hal yang tidak masuk akal, apakah kau bisa percaya padaku?” Katanya tetiba.

Aku mengangguk, “Kurasa, mungkin bisa.” Balasku. Claudia kemudian ternsenyum.

“Sebenarnya aku tidak lupa. Aku ingat semua rincian kejadian tadi malam. Juga tentang sosok berjubah hitam yang hampir melukaiku.”

Aku terhenyak begitu mendengar Claudia mengatakan tentang sosok berjubah hitam yang dilihatnya. Ternyata Claudia juga bisa melihat sosok hitam tersebut.

“Apakah dia memegang sabit besar di tangannya? Wujudnya hanya berupa tengkorak tanpa daging atau pun kulit?” Aku balik bertanya.

“Ya!” Claudia berseru keras, “Ya, Elena, kau benar! Darimana kau tahu?” Tanyanya.

“Itu karena aku juga pernah bertemu sosok berjubah hitam tersebut, tepat saat aku pertama kali datang ke Larchangela. Sosok tersebut yang telah membunuh pemuda yang akan merampok aku dan Dad.”

***

One Response »

  1. just one word. W.O.W!
    cukup memacu adrenalin karena penasaran. *gak nyambung*
    pokoknya Super Sekali. #eh #MarioTeguhQuote :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s