The Legend

The Legend

3. Adarkagh

Secara tiba-tiba pintu batu yang berada di depanku itu mulai bergetar hebat setelah baru saja aku mengucapkan kalimat aneh dari simbol-simbol yang ada di pintu tesebut.

Aku bergerak mundur dua langkah saat menyadari getaran pintu tersebut semakin hebat.

‘Bagaimana kalau istana yang berada di atas lorong ini jadi hancur akibat getaran ini?!’ pikirku khawatir sembari berpegangan pada dinding lorong untuk menjaga keseimbanganku.

Tapi untungnya, satu detik setelah kekhawatiranku itu merasuk ke dalam kepalaku, getaran hebat itu pun berhenti dan pintu batu yang berada di depanku itu perlahan-lahan bergeser ke samping sehingga sebuah jalan masuk terbuka lebar bagiku.

Sebuah ruang lapang dengan banyak sekali kristal-kristal bercahaya tergantung di langit-langit ruangan kini telah berada tepat di depan mataku. Sungguh, pemandangan yang sangat menakjubkan.

Tanpa ragu aku pun melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Obor di tangan kananku telah berpindah ke tangan kiriku sementara tangan kananku yang tadinya bersiaga pada pedang yang tergantung di sisi kiri tubuhku entah kenapa kini sudah terjatuh ke samping tubuhku. Aku sama sekali tak merasakan adanya ancaman di tempat remang ini. Tempat ini terlihat sungguh damai dan tenang—bagiku.

Aku merasa seperti telah sangat sering ke tempat ini—dulu sewaktu aku kecil. Entah itu hanya sebuah fenomena dejavu aneh, atau memang aku dulu pernah ke tempat ini.

Sambil terus melangkahkan kakiku, aku berjalan pelan menuju sebuah altar besar yang terbuat dari batu kristal besar yang sungguh indah. Di sekeliling altar tersebut terpahat banyak sekali tulisan-tulisan aneh yang sepertinya sama dengan yang terpahat di pintu batu tadi. Aku yakin kalau aku mendekat dan melihat dengan seksama aku pasti juga bisa membaca tulisan yang terpahat pada altar tersebut.

Tak lama, sebuah suara deburan ombak kembali terdengar di telingaku. Kicau burung camar pun kini saling bersahut-sahutan mengiringi suara air laut yang terpecah menjadi alunan melodi indah. Aku mengernyitkan alisku bingung. Apa benar ada laut di tempat seperti ini? Di bawah istana Nazareth ada laut? Bagaimana bisa?

“Pangeran Arresta?” panggil sebuah suara secara tiba-tiba hingga membuatku terkejut dan menjauh dari asal suara tersebut sebanyak tiga langkah. Kucabut Minerva dari sarung pedangnya lalu segera kuacungkan ke depan tubuhku—bersiap dalam posisi menyerang.

“Siapa?!” tantangku sambil tetap mengacungkan pedangku. Kali ini aku dapat melihat siluet sosok yang baru saja memanggil namaku itu walau tidak jelas karena sosok tersebut berada di dalam bayangan.

Tubuhnya jangkung dan kurus. Kutaksir ia tengah mengenakan jubah panjang hingga menutupi seluruh tubuhnya dari kepala sampai kaki. Tangannya yang terlihat lemah itu kini tengah memilin-milin janggut panjangnya yang entah berwarna apa.

Aku segera menelan ludah saat menyadari siapa yang sebenarnya tengah berada di depanku itu saat sosok itu akhirnya melangkah keluar dari dalam bayangan dan tersenyum manis ke arahku—menampilkan seraut wajah tua yang ramah.

“Guru! Kau mengagetkanku!” seruku keras saat lelaki paruh baya itu berjalan pelan ke arahku sambil tertawa-tawa renyah.

“Untung saja kau tidak sampai membunuhku, pangeran.” Sindir guru Marg padaku yang seketika langsung membuat hatiku mencelos begitu saja.

“Itu salahmu, guru! Kenapa juga kau harus mengagetkanku seperti itu!” balasku jengkel sambil segera menyarungkan kembali Minerva di pinggangku. Sementara itu guru Marg tersenyum saat mendengar kata-kata polosku itu.

“Aku sama sekali tak menyangka kalau kau akhirnya menemukan tempat ini, pangeran.” Kata guru Marg sambil tersenyum tipis ke arahku, “Mungkin ini memang sudah saatnya kau tahu. Kau sudah dewasa.”

Kali ini aku kembali mengerutkan alisku. Aku sungguh sangat bingung dengan kata-kata yang baru saja guru Marg katakan padaku. Tahu tentang apa? Apakah ada sesuatu yang sangat rahasia tentang diriku ini?

“Maksudmu apa, guru? Dan lagi, tempat apa sebenarnya ini? Kenapa tadi aku mendengar ada suara ombak dan burung camar? Dan aku sudah harus tahu tentang apa? Guru, kau benar-benar membuatku takut sekarang.” Kataku panjang lebar yang segera membuat guru besar Marg kembali tertawa.

“Tidak perlu takut, pangeran. Hal yang akan kuberitahu ini bukanlah hal yang menyeramkan. Tidak, tidak sama sekali. Malahan, kau pasti akan senang.” Balas guru Marg sambil tersenyum.

“Kenapa aku harus senang?” tanyaku bungung sambil menggaruk-garuk kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Aku bingung harus menanggapi guru Marg seperti apa hari ini. Kali ini dia kelihatan lebih aneh dari yang biasanya.

“Ah—lebih baik kau ikut aku. Mari…” ajaknya sambil mengayunkan tangannya seperti tengah mempersilahkanku untuk maju.
Setelah itu, guru Marg pun mulai melangkah ke dekat altar lalu berhenti di sampingnya.
‘Frapez la porte…’ ujar guru Marg pada altar batu itu. Tak lama, sebuah celah mulai terlihat akibat batu yang berada tepat di belakang altar tersebut bergeser hingga akhirnya membentuk sebuah pintu masuk.

“Mari pangeran Aressta, ikuti aku.” Ujar guru besar Marg padaku sementara aku mulai mengikuti langkahnya yang lambat-lambat itu.

Jalan yang kulalui saat ini kira-kira hampir sama dengan jalan yang tadi aku lewati. Hanya saja kini di sisi kanan dan kiri lorong sudah tersebar batu-batu kristal berwarna biru sebagai penerang sementara tadi tidak. Obor yang tadi sempat tergenggam di tanganku pun kini sudah kugantungkan kembali pada sebuah celah yang ada di pintu masuk tadi.

Di tengah perjalanan kami berdua hanya berdiam diri saja. Hingga akhirnya rasa penasaranku sudah tak mampu terbendung lagi dan kalimat-kalimat pertanyaan itu pun meluncur keluar dari mulutku.

“Sebenarnya—tempat apa ini guru? Kenapa tempat ini tersembunyi di bawah tanah?” tanyaku pada guru besar Marg.

Tanpa menghentikan langkahnya, guru Marg pun menjawab, “Disinilah tempat kami, para pengikut cahaya berkumpul. Aku dan keempat guru besar lainnya biasa melakukan pertemuan di tempat ini.”

“Para pengikut cahaya? Apa itu?” tanyaku bingung. Kedua alisku pun kembali bertaut untuk yang kesekian kalinya.

“Kami, para Elightarian—atau bisa juga disebut pengikut cahaya—adalah orang-orang yang sangat berpegang kuat pada kekuatan cahaya. Kami semua secara rutin melakukan pertemuan di tempat ini dengan tujuan menjaga kestabilan ‘Upper Earth’—dari West wing of Earth sampai East wing of Earth. Kami semua di sini secara rutin saling bertukar informasi dan laporan tentang perkembangan-perkembangan yang terjadi di Upper Earth—baik atau pun buruk. Setelah informasi-informasi tersebut terkumpul, kami dengan cepat segera melakukan tindakan-tindakan yang terbaik untuk mengatasi masalah-masalah yang ada.”

Aku mengangguk-angguk paham saat guru Marg menjelaskan hal tersebut padaku, “Guru, kau bilang tadi, para Elightarian menjaga kestabilan seluruh wilayah di Upper Earth. Apa itu berarti selama ini kalian para guru besar yang telah menjaga kestabilan Upper Earth?” aku betanya sambil mengeluarkan tatapan kekaguman ke arah guru Marg yang masih terus berjalan tak jauh di depanku.

Tapi ternyata guru Marg malah tertawa mendengar pertanyaanku barusan, “Tentu saja tidak, pangeran. Bukan hanya kami berlima—para guru besar—yang menjadi anggota Elightarian. Di setiap penjuru Upper Earth pasti ada satu atau dua orang yang menjadi Elightarian. Kalau tidak begitu, mana mungkin aku dan keempat guru besar lainnya tahu perkembangan di seluruh penjuru Upper Earth sementara kami tidak pernah pergi kemana-mana?”

Mulutku membulat membentuk huruf ‘O’ sementara guru Marg telah menghentikan langkahnya. Cukup jauh juga ya aku dan guru Marg berjalan? Kakiku mulai terasa letih.

“Tapi guru, bagaimana kau bisa berkomunikasi dengan seluruh Elightarian itu? Bukankah kalian terpisah jarak berhari-hari?” aku kembali bertanya sambil menunjukkan raut wajah kebingungan.

“Nah, kalau soal itu, kau akan tahu sebentar lagi, pangeran. Kebetulan sekarang ini aku tengah melakukan komunikasi dengan salah satu Elightarian dari East-wing of Earth. Lokasi pastinya adalah di ‘Ruins of Siren’, kau pernah mendengarnya pangeran? Tempat itu tak jauh dari laut besar yang ada di timur sana, ‘Odion Sea.’” Tukas guru Marg panjang lebar sementara aku yang mendenganya kebingungan.

Ruins of Siren? Di mana tempat itu? Lalu Odion Sea? Ah—salahkan ayahku yang tidak pernah mengizinkanku menjelajah ke seluruh bagian dari Upper Earth.

Aku menggeleng sementara guru Marg kembali berujar, “Ah, maafkan aku pangeran. Kau pasti tidak tahu ya tempat-tempat besar itu. Tapi tenang saja. Aku yakin cepat atau lambat kau juga pasti akan bisa pergi ke sana dan melihat sendiri bagaimana rupa tempat itu.

Aku mengangguk bingung sementara kini guru Marg tengah bersiap membuka gagang pintu yang ternyata sudah berada tepat di depanku dan guru Marg, “Mari, silahkan masuk pangeran.” Ujar guru Marg mempersilahkan.

Satu kata yang sepertinya cukup pantas untuk mengambarkan rupa tempat ini—menakjubkan!

Pilar-pilar besar berwarna biru terang yang terbuat dari batu-batuan kristal berdiri kokoh di tengah-tengah ruangan hingga membentuk suatu lingkaran besar. Di tengah lingkaran tersebut sebuah meja bundar besar dengan lima kursi yang mengelilinginya—aku yakin kursi-kursi itu adalah milik para guru besar, tak usah diragukan. Tapi, yang lebih menakjubkan dari itu semua adalah adanya sebuah kristal besar, yang melayang-layang di atas meja bundar tersebut. Entah menggunakan tenaga atau sihir apa, kristal itu dapat melayang rendah di atas meja tersebut.

Yang lebih menakjubkan lagi, kini sebuah wajah wanita cantik berambut biru laut tengah berada di dalam kristal raksasa itu.
Entah bagaimana caranya, wanita itu sepertinya bisa menyadari akan kehadiranku dan kini tengah tersenyum lembut ke arahku, “Oh, Marg, apakah ini yang bernama Aressta itu? Yang merupakan penerus dari Lord Elighta sang Pelindung Cahaya!” seru wanita itu terlihat girang. Suaranya yang sebiru dan sejernih lautan membahana di seluruh ruangan.

Tunggu, kenapa aku merasa kalau aku pernah mendengar suara sejernih ini ya?

Guru besar Marg mengangguk sambil tersenyum lembut ke arah wanita itu, “Ya, Canntesa. Kurasa dialah orangnya. Tak ada kan yang bisa memasuki ruangan ini selain para Elightarian dan Pelindung Cahaya?” balas guru Marg sambil berjalan ke arah salah satu kursi yang berada di sekeliling meja bundar tersebut, lalu duduk di sana.

Tak lama guru Marg mengayun-ngayunkan tangan pelan ke arahku, nampaknya bermaksud untuk menyruhku duduk di sebelahnya. Aku pun menurut dan mulai berjalan ke arahnya.

“Kau bisa duduk di kursi milik Deazco. Aku yakin ia pasti mengizinkannya.” Ujar guru Marg sambil tersenyum tipis sesaat setelah aku mendudukkan tubuhku di kursi kayu berwarna hitam tepat di sebelah guru besar Marg. Jadi inikah tempat duduk guru besar Deazco? Cukup nyaman.

Tiba-tiba, terdengar kembali suara deburan ombak dan suara burung camar yang saling bersahut-sahutan. Tak lama, sebuah hembusan angin menerpa wajahku hingga membuat rambut cokelat emasku terayu-ayun pelan.

Aku langsung menoleh ke arah guru besar Marg, menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah mengatakan; ‘Bagaimana bisa angin tersebut muncul dari dalam kristal?!’

Guru besar Marg tersenyum sambil balas menatapku, “Itulah salah satu kelebihan batu kristal Crysth—batu yang diberikan Lady Crystallyia beratus tahu silam pada Lord Elighta. Batu kristal yang ada di sini merupakan yang paling besar dari semua batu yang telah diberikan kepada para Elightarian lainnya. Batu ini sungguh sangat berguna bagi kami—para Elightarian—untuk saling bertukar informasi. Selain dapat membuat kami saling bertatap-tatap muka seperti ini, terkadang batu Crysth juga dapat membuat kami saling bertukar suasana. Ya, contohnya seperti ini. Kita berdua—kau dan aku, pangeran—dapat merasakan hembusan angin yang berasal dari laut di sana serta suara debur ombak dan camar. Sementara aku yakin di sana Canntesa juga bisa merasakan kesunyian ruangan ini.” Jelas guru Marg panjang lebar. Aku pun mengangguk-angguk paham. Akhirnya aku tahu darimana suara debur ombak itu berasal.

“Nah, Canntesa, sampai di mana obrolan kita tadi?” tanya guru Marg sambil tersenyum ke arah wanita berwajah cantik itu. Kutaksir, umurnya barulah tiga puluhan.

“Ah—lebih baik obrolan kita tadi ditunda dulu, Marg. Aku ingin kau memperkenalkanku dengan pria muda ini.” Ujar wanita bernama Canntesa itu sambil tersenyum ke arahku.

“Ya, baiklah kalau kau memaksa, Canntesa,” ujar guru Marg lalu menoleh ke arahku, “Nah, pangeran Aressta, perkenalkan, wanita yang sedang kau lihat ini adalah Canntesa vir Azala. Dia adalah seorang mage yang berasal dari East wing of Earth, seperti yang aku bilang tadi, Ruins of Siren.”

“Salam dari tanah Nazareth, Lady Canntesa.” Ujarku mencoba untuk sopan dengan mengucapkan salam perkenalan khas kerajaanku.

“Lady Canntesa? Haha… Tidakkah kau berlebihan, pangeran?” ujar Canntesa sambil tertawa.

Tiba-tiba saja, pikiranku mulai terputar. Aku baru ingat kalau tujuan awalku adalah mencari guru besar Marg untuk menanyakannya tentang mimpi-mimpi yang kualami akhir-akhir ini. Jadi, kenapa sekarang aku tidak bertanya padanya? Bukankah aku telah bertemu dengannya?

“Hmm.. guru, boleh aku bertanya padamu mengenai sesuatu?” kataku pada guru Marg.

“Tentu saja, pangeran. Ada apa?”
Aku bergumam pelan sebelum melanjutkan pertanyaanku. Dari dalam kristal Canntesa mengamati gerak-gerikku dengan tatapan menyelidik, “Aku—ada yang aneh dengan mimpiku akhir-akhir ini.” Kataku jujur.

“Hal aneh seperti apa?” tanya guru besar Marg—bingung.

“Kurasa—ada sesuatu hal yang menganggu mimpiku. Suara-suara aneh. Suara seorang wanita.” Jawabku

“Suara wanita? Apa yang dikatakan suara tersebut, pangeran?” tanya guru Marg lagi, sementara Canntesa kini mulai menatapku dengan tatapan heran.

“Ya, wanita. Setiap kali datang ke mimpiku dia selalu saja meneriakkan kata-kata seperti bangkit, kegelapan dan lain sebagainya. Suaranya seperti orang yang sedang kesakitan. Terkadang dia juga menyebut-nyebut nama seseorang yang aku tidak kenal sama sekali. Kupikir suara itu hanya akan muncul dalam mimpi-mimpiku, tapi entah kenapa suara itu kini mulai mendatangiku dalam keadaan sadar. Bahkan sebenarnya tadi suara itulah yang membimbingku hingga sampai ke tempat ini. Dia juga sering menyebutku dengan panggilan penerus. Aku—jujur, aku bingung, guru.” Jelasku panjang lebar.

Sekarang, guru Marg dan Canntesa saling berpandang-pandangan bingung.

“Oh, ya, waktu itu aku juga pernah bermimpi tengah berada di depan sebuah reruntuhan—entah apa. Di sekelilingku berdiri tiga orang yang juga ikut menyertaiku. Aku yakin kalau itu hanyalah mimpi, tapi entah kenapa aku merasa hal itu seperti sebuah hal yang nyata. Kami semua dapat saling berbicara dan tahu akan nama tiap-tiap orang yang ada di tempat itu. Tapi sayang, aku tak dapat melihat wajah mereka. Dan, Oh! Ada seorang wanita yang bersuara sejernih kau, Lady Canntesa. Rambutnya bergelombang panjang dan kalau aku tidak salah ia mengenakan liontin yang sama dengan liontin milikmu.” Kataku lagi sambil melirik ke arah liontin berwarna perak yang berhiaskan batu Aquamarine.

“Apakah perempuan itu bernama Myrassha?!” seru Canntesa keras yang langsung membuatku terkejut. Darimana ia tahu nama itu?

“Ya. Kalau aku tidak salah, waktu itu aku juga memanggilnya dengan nama Myrassha. Kau kenal dengannya?” kataku sambil mengernyitkan alis bingung.

“Canntesa, bukankah Myrassha itu adalah…”

“Anakku. Aku tahu itu, Marg.“

Jadi, perempuan yang waktu itu ada di dalam mimpiku itu adalah putri dari Canntesa?

“Waktu itu Myrassha juga pernah bercerita padaku tentang mimpinya yang aneh itu. Kupikir dia sedang terlalu letih hingga memimpikan hal aneh tersebut, jadi kusuruh padanya untuk tak usah terlau memikirkannya. Ternyata, kau juga mengalami hal yang sama, pangeran?”

“Baiklah, kurasa dapat kita simpulkan kalau mimpi pangeran Aressta dengan putrimu, Myrassha saling berhubungan—entah dengan cara apa.” Kali ini guru Marg menoleh ke arahku, “Pangeran, kau bilang tadi ada tiga orang lagi di sana. Siapakah dua orang lainnya selainMyrassha?” tanya guru Marg.

“Hmm, kalau tidak salah nama mereka adalah Elvazar, dan Zarhte. Mengenai Elvazar, kurasa—ada yang aneh dengan telinganya.” Kataku jujur sambil berusaha mengingat-ingat.

“Apa yang aneh?” tanya Canntesa.

“Bentuknya lancip. Tidak seperti telinga manusia normal.” Ujarku.

Mendengar perkataanku, guru Marg langsung membelalak kaget, “Ah! Bangsa Elf! Kurasa nanti aku harus segera bertanya pada Narkeas—salah satu Elightarian yang merupakan bangsa Elf.”

“Pangeran, kau bilang tadi suara wanita tersebut menyebut-nebut sebuah nama. Nama apa?” tanya Canntesa lagi.

Dengan cepat kujawab pertanyaannya, “Suara itu, menyebut nama Adarkagh.”

“Demi raja agung! Adarkagh kau bilang?” seru guru besar Marg sambil sekali lagi membelalak kaget.

“Benar-benar tak dapat dipercaya…” Canntesa berkata lirih sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Sedetik kemudian, guru besar Marg menoleh ke arah Canntesa dan menatapnya tajam, “Kurasa kau tahu apa yang harus kau lakukan saat ini, Canntesa.” Ujar guru besar Marg sementara Canntesa langsung membalas ucapan guru besar Marg dengan anggukan, “Kukira sekaranglah saatnya kita semua membangkitkan kembali Lady Crystallyia.”

“Tapi bukankah membangkitkanNya adalah mustahil? Kita bahkan tidak tahu caranya!” seru Canntesa.

“Aku tahu caranya, Canntesa. Aku tahu.” Ujar guru besa Marg tenang, “Kita hanya perlu mencari keempat orang penerus dari Lady Crystallyia, dan biarkan mereka yang membangkitkanNya. Saat ini kita beruntung karena telah memiliki salah satu penerus cahaya tersebut,” lalu guru besar melirik ke arahku, “Kau, pangeran. Kau salah satunya.”

Canntesa berseru keras, “Apakah mungkin Myrassha juga adalah…” kata-kata Canntesa terpotong di tengah-tengah. Dirinya terlihat ragu mau melanjutkan kalimatnya atau tidak.

“Itu mungkin saja Canntesa. Semuanya mugkin saja terjadi bukan?” ujar guru besar Marg. Wajahnya yang tua terlihat semakin berkerut-kerut saat tengah berpikir keras.

Aku yang tadinya bergelut dalam keheningan akhirnya sudah tak mampu lagi menahan rasa penasaranku, “Tunggu sebentar!” potongku, “Aku tidak mengerti. Tolong jelaskan padaku ada apa dengan semua ini.”

Guru besar Marg kemudian menoleh ke arahku sebelum akhirnya angkat bicara, “Kau tahu legenda benua Kaia, seratus tahun yang lalu bukan, pangeran?” Katanya tajam, sementara aku mengangguk, “Kau tahu bagaimana Lady Crystallyia bertarung kemudian akhirnya menyerahkan nyawanya untuk menyegel Dark sang penguasa kegelapan?”

Aku kemudian mengangguk lagi, “Lalu apa hubungannya denganku, guru?” Aku masih belum bisa menangkap ke mana arah pembicaraan ini akan berujung.

Perlu kau ketahui, pangeran, Lady Crystallyia pada waktu itu tidak benar-benar menyerahkan nyawanya sepenuhnya. Ia hanya tertidur, untuk waktu yang tidak diketahui sama sekali.” Lanjut guru besar Marg.

“Tapi Marg, Ia telah tiada! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat jasadnya dibawa masuk dan dikuburkan di dalam reruntuhan Central Earth!” Canntesa langsung menampik semua perkataan guru besar Marg, “Darimana kau tahu kalau Ia hanya tertidur?”

Guru besar Marg kini menolehkan pandangannya ke arah Canntesa, “Aktifitas aneh yang sedang terjadi di Central Earth adalah buktinya, Canntesa. Itu bukti kalau kekuatan kegelapan kian mendekat.” Ujar guru besar Marg, “Lady Crystallyia menyegel Dark dengan mengorbankan nyawanya, dan sekarang segel itu mulai kehilangan kekuatannya itu berarti waktu itu Ia gagal sepenuhnya menyegel Dark.”

“Jadi maksudmu, Lady Crystallyia sampai saat ini masih hidup karena waktu itu Ia hanya menggunakan setengah kekuatannya? Itu sebabnya ia kini hanya tertidur?” Tebak Canntesa.

Guru besar Marg mengangguk mantap.
Kini, aku makin bingung dibuatnya, “Lalu guru… Apa hubungannya dengan…”

“Kau adalah Elightarian, pangeran,” potong guru besar Marg cepat, “Kau adalah Elightarian berdarah murni. Kau mewarisi darah Lord Elighta var Asgard, kau keturunannya.” Lanjutnya yang membuatku segera tersentak kaget.

Apa? Light sang pemimpin cahaya mempunyai nama keluarga yang sama denganku–keluarga var? Dan aku adalah keturunannya?

Tanpa kusadari mulutku sudah menganga dengan lebarnya.

“Apa?! Benarkah itu guru?!” Seruku lagi, masih tidak percaya.

Guru besar Marg mengangguk mantap, “Ya, pangeran, tidak mungkin salah.” Ujarnya sambil kini menatapku, “Sekarang, kau punya tugas berat yang harus dilakukan.”

“Tugas? Tugas macam apa?” Tanyaku.

“Kau, harus berkeliling dan menjelajah benua Kaia untuk mencari keempat penerus lainnya, kemudian dengan kekuatan kalian semua, bangkitkanlah Lady Crystallyia.”

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s