BRENGSEK!
Satu kata untukmu, seseorang yang ingin aku bunuh dengan sangat.
Aku membencimu, dari denyut nadiku yang paling lemah hingga ke bagian terdalam jantungku. Aku membencimu. Aku mengutukmu. Aku dendam padamu sampai ke ubun-ubun.
Kenapa? Kenapa harus selalu kamu? Kenapa harus kamu yang telah pergi sejak lama yang selalu aku rindukan keberadaannya?
Kenapa harus kamu yang mengerak di pikiranku? Kenapa harus kamu yang menyebarkan virus yang membunuhku perlahan-lahan? Kenapa?
Kenapa aku masih… mencintaimu?
Padahal kamu sudah bahagia bersamanya. Padahal aku memang bukan yang paling baik untukmu? Kenapa aku jadi egois? Semua karenamu.
Aku benci kamu.
Aku benci kamu.
Aku benci kamu.
Aku benci kamu.
Aku benci kamu.
Aku benci kamu.
Aku benci kamu.
Aku benci kamu.
Aku benci kamu.
Aku benci kamu.
Aku benci kamu.
Kata-kata tersebut mengalir bagaikan mantra.
Tapi… Aku juga mencintaimu.
Aku harus bilang apa?
Aku cemburu padanya, pada semuanya.
Aku harus bilang apa?
Aku merindukanmu.
Aku harus bilang apa?
Aku membencimu.
Itu yang harus kukatakan padamu.
Aku benci kamu.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah aku mencintaimu dengan teramat sangat.
Aku benci diriku sendiri.
…Itu yang sebenarnya terjadi.
Aku benci diriku sendiri yang masih peduli dan selalu menyayangimu.
…Itu yang sebenarnya terjadi.
Aku benci pada diriku sendiri yang masih berhenti di detik saat aku bersamamu.
Padahal kamu sudah melangkah sangat jauh bukan?
…Itu yang sebenarnya terjadi.
Aku mencintaimu.
Itu yang terjadi.
Sial.
-catatan kecil penuh kebencian dariku saat melihat kamu bersamanya