[PENDATANG BARU]
“Selamat datang di sekolah barumu, Elena!” Seru Dad saat mobil sedan miliknya berhenti tepat di depan sebuah bangunan besar dengan banyak sekali orang yang berlalu lalang di sana dan di sini.
Aku menghela napasku panjang. Kurasa aku belum siap untuk masuk sekolah. Aku belum siap memulai semuanya dari awal lagi. Adaptasi adalah hal yang sangat menyulitkan untuk aku lakukan.
“Dad, jangan berlebihan, aku mohon.” Kataku bersungguh-sungguh. Kemudian aku menolehkan wajahku ke arahnya dan mendapati kalau Dad sedang melemparkan senyum sumringahnya yang sangat luar biasa padaku.
“Oh, ayolah Elena, kau harus bersemangat!” Ujar Dad sambil masih tetap tersenyum sementara aku sudah buru-buru turun dari mobil sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Dad, sudahlah. Aku akan baik-baik saja, percaya padaku.” Ujarku dari celah jendela mobil yang terbuka lebar, “Sebaiknya kau harus segera berangkat, jangan sampai telat di hari pertamamu masuk kerja.”
Dad mengangguk sekali sambil tersenyum ke arahku, “Kurasa kau benar, Elena.” Katanya mengiyakan ucapanku, “Jaga dirimu baik-baik, hati-hati dengan tanganmu, jangan sampai jahitannya lepas.” Dad mewanti-wanti.
“Tenang saja Dad, kalau pun sampai lepas aku bisa ke rumah sakit sendiri untuk menjahit ulang tanganku.” Aku tersenyum kaku ke arah Dad. Tentu saja aku bercanda. Tidak mungkin ada orang yang senang kalau tangannya terus-terusan dijahit dan merasakan sakit yang berulang-ulang seperti itu.
“Baiklah Elena, semoga harimu menyenangkan.” Ujarnya lagi, “Aku sayang padamu.”
“Aku juga sayang padamu, Dad.” Balasku cepat sementara sesaat setelah itu mobil Dad segera melaju dengan cepat.
Aku berbalik, lalu menghela napas panjang. Baiklah, mari kita mulai hari yang panjang dan melelahkan ini.
***
Aku melangkah dengan gontai menuju taman yang berada di samping sekolahku. Kelas pertama baru saja selesai dan sampai sekarang aku masih belum berhasil mendapatkan satu pun teman baru. Bukannya aku tidak bisa mencari, tapi memang aku yang tidak ingin. Aku masih belum siap beradaptasi.
Di kelas sebelumnya, semua mata langsung tertuju ke arahku saat aku berjalan memasuki kelas. Dan aku tidak tahu apa penyebabnya. Mereka semua menatapku tajam seakan-akan aku ini mahluk aneh dari planet luar angkasa atau apa pun itu.
Dua jam berada di kelas dan tidak ada satu pun murid yang mencoba untuk mengajakku berbicara. Tidak, aku tidak kesal, malah aku sangat bersyukur sekali.
Aku duduk di deret ketiga dari depan dengan seorang perempuan juga, entah siapa namanya. Matanya sendu dan wajahnya pucat. Tidak sedikit pun ia berbicara atau menoleh padaku. Entah karena pandangannya tertutup rambut merahnya yang bergelombang tebal atau apa, aku tidak peduli.
Sekali lagi, aku hanya bisa bersyukur dengan ketenangan yang terjadi tadi selama kelas berlangsung dan saat guru tua itu–Mr. Johnson mengajar di kelasku.
Aku sudah duduk bersimpuh di bawah salah satu pohon besar yang daunnya amat rimbun saat angin semilir mulai berhembus menerbangkan rambut hitam panjangku perlahan. Aku menghela napas, panjang dan dalam.
“Kau sedang tidak ada kelas?” Tanya sebuah suara yang kukira berasal dari sebelah kananku. Aku agak mendongakkan kepalaku ke asal suara tersebut dan seketika langsung tersentak kaget.
Aku kenal tatapan tajam mata itu. Aku masih ingat euforia aneh itu saat kemarin dua bola mata hitam itu beradu pandang dengan kedua bola mata milikku. Aku masih bisa merasakan bagaimana dengan cepat bulu kudukku merinding ketika pemuda ini dan temannya lewat di hadapanku, aku ingat sekali rasa menggigil yang merasuk sampai ke tulang tersebut.
Aku ingat, dia adalah si pemuda bermata tajam yang kutemui kemarin di rumah sakit!
“Aku… Sedang malas masuk kelas.” Aku berujar dengan gugup. Pemuda itu tersenyum lalu segera ikut duduk tepat di sebelahku.
“Tak kusangka anak baru yang terlihat seperti anak baik-baik sepertimu ternyata cukup berani juga.” Dia menoleh ke arahku, menatapku dengan kedua bola matanya yang tajam. Kali ini senyum sudah hilang dari wajahnya, membuatku jadi semakin gugup karenanya.
“Apa urusanmu?” Tanyaku berani. Entah apa yang kupirkan saat itu.
“Tidak ada.” Jawabnya cepat sambil melemparkan senyum menawan ke arahku.
“Kau sendiri, kenapa tidak masuk kelas?” Aku balik bertanya dengan nada menantang.
“Aku? Malas. Masuk kelas dan belajar itu membosankan.” Katanya lalu tertawa. Dia menengadahkan kepalanya lalu kemudian menatap langit dengan tatapan kosong, “Buat apa kau mempelajari semua ilmu yang ada di dunia, lalu merasa bisa melakukan apapun, terhadap apapun, tapi ketika menghadapi kematian kau tetap tak bisa berkutik sedikit pun?”
Aku menelan ludahku susah payah. Baru saja bertemu dan dia sudah membicarakan topik berat seperti kematian denganku? Benar-benar salah.
“Tapi bukankah itu yang dinamakan dengan kehidupan? Kau berusaha melakukan segala hal yang terbaik yang mampu kau lakukan, lalu setelah kau berhasil mencapai semuanya, kematian adalah jalan terbaik memberikan penutup ceritamu. Dengan kematian, bukankah kita jadi semakin berusaha mencapai segalanya karena masing-masing dari kita, manusia, punya tenggat waktu yang bernama kematian?” Aku membalasnya sambil menatap wajah pucatnya yang masih menengadah ke atas, sedang menelusuri awan kelabu yang berarakan.
“Jadi dengan kata lain kau baru saja menyatakan kalau kau sama sekali tidak takut dengan kematian?” Tanyanya.
Aku menggeleng, “Tidak. Tentu saja tidak, untuk apa takut dengan hal yang sudah pasti akan datang?”
Kemudian dia tersenyum, “Menarik,” katanya, “Biasanya semua orang akan takut pada kematian. Menurut mereka itu menyeramkan.” Kemudian dia terkekeh.
“Menakutkan? Tentu saja tidak. Bodoh sekali kalau kau sampai takut dengan kematian.” Aku ikut tertawa, “Menurutku, kehidupan jauh lebih menyeramkan daripada kematian. Dalam kehidupan itu masih ada hari esok, dan kau tidak akan pernah diberitahu akan jadi seperti apa hari esok itu. Makanya aku bisa menyimpulkan kalau kehidupan lebih menyeramkan.”
“Hmm… Kehidupan ya?” Kemudian dia kembali menatapku, tatapannya terasa lebih tajam dari yang sebelumnya, “Kurasa kau benar.” Lalu dia tersenyum. Wajahnya begitu manis saat ia tersenyum, dan kurasa, entah kenapa aku mulai merasa tertarik padanya…
Ah, tidak mungkin!
Beberapa detik setelahnya, pemuda itu lalu perlahan bangkit dari duduknya lalu segera berdiri tegap.
Aku mengikuti setiap gerakan yang ia buat dari sudut mataku. Aku benar-benar tidak habis pikir. Apa yang sebenarnya dia lakukan? Kenapa harus repot-repot mencoba bersikap ramah pada pendatang baru sepertiku?
“Namaku Samael,” katanya sambil sekali lagi melemparkan senyum ke arahku, “Samael Black.”
Aku kembali menatapnya lalu dengan cepat berujar, “Elena. Elena Feroza.”
“Senang bertemu denganmu, Elena. Kau gadis yang sangat menarik. Aku berharap bisa mengenalmu lebih dekat lagi.” Katanya sambil tetap melempar senyum, “Selamat datang di Larchangela, Moazelle.” Katanya sambil membungkukkan setengah badannya lalu memberi hormat ala bangsawan sebelum kemudian segera berbalik dan melangkah menjauh tanpa berkata apapun lagi.
Semakin jauh Samael melangkah, entah mengapa aku jadi semakin tertarik untuk terus menatap punggungnya yang perlahan mulai berjalan menjauh.
Samael, sungguh laki-laki yang sangat misterius dan mempesona. Aku bisa saja terus memperhatikan punggung Samael yang terus menjauh itu kalau saja tidak ada suara yang mengusik dengan memanggil-manggil namaku.
“Hei!” Seru suara itu, yang berasal dari sebelah kiriku, “Kau Elena kan? Elena Feroza?” Sahut suara itu lagi.
Aku menoleh dan langsung mendapati gadis yang di kelas sebelumnya sempat duduk bersama denganku tengah berdiri mematung dengan jarak tak lebih dari tiga meter dariku. Ya, ternyata si rambut merah bergelombang yang baru saja memanggilku.
“Ya? Ada apa?” Tanyaku sementara gadis itu sudah melangkah mendekat ke arahku.
“Tidak kusangka kau berani melarikan diri dari pelajaran Mr. Johnson.” Katanya sambil tertawa saat ia sudah berada di sebelahku, “Biasanya dia jadi yang paling rewel soal absensi murid-murid yang hadir di kelasnya, itu sebabnya semuanya selalu terpaksa mengikuti pelajarannya walaupun membosankan. Ya, kecuali kau tentu saja.”
Si rambut merah kemudian duduk dan langsung menjulurkan tangannya kepadaku, “Namaku Claudia Tesla. Maaf kita tidak sempat berkenalan tadi. Mr. Johnson tidak suka ada orang yang berbicara saat sedang berada di kelasnya.”
Aku menyambut tangannya sambil tersenyum kaku, “Elena Feroza,” Claudia kemudian tersenyum. Wajahnya yang pucat jadi terlihat aneh saat ia tersenyum.
“Selamat datang di Larchangela, Elena. Ah, kalau boleh aku tahu tadi itu kau sedang apa? Lucu sekali melihatmu berbincang-bincang seoarang diri di bawah pohon seperti ini.” Kali ini Claudia tertawa.
“Sendiri?” Tanyaku keheranan, “Tadi aku bersama seorang pria. Dia mengajakku berkenalan. Namanya Samael, Samael Black.” Aku berkata sambil mengernyitkan dahiku.
“Samael Black?” Ulang Claudia keheranan, “Setahuku tidak ada yang bernama seperti itu di sini.” Kemudian Claudia mengangkat bahunya.
Tidak ada? Maksudnya?
“Tapi, lalu tadi itu apa?” Aku mulai merasa panik. Setengah kesal karena kejadian-kejadian aneh masih saja mengikutiku bahkan saat aku sudah sampai di sekolah.
Claudia lalu menepuk punggungku, “Ah, sudahlah Elena. Lupakan saja. Mungkin aku lupa dan mungkin saja tadi aku salah lihat.” Ujarnya sambil tertawa.
Aku? Aku tentu saja tidak bisa tertawa. Aku mengatupkan mulutku sambil berpikir keras.
“Oh iya Elena, nanti malam kafe Redmid akan ramai. Kau tahu tempatnya? Tak jauh dari alun-alun kota. Hari ini jumat dan acara musik mingguan selalu digelar di sana. Kau mau datang?” Tawar Claudia padaku, “Kurasa kau harus datang ke tempat-tempat ramai seperti itu agar bisa berkenalan dengan lebih banyak orang.”
Uh-oh, ‘banyak orang’, hal yang sayangnya sangat aku benci, Claudia. Aku bersuara dalam hati tanpa berani menyuarakannya.
“Bagaimana? Kau setuju? Aku sendiri yang akan menjemputmu kalau kau mau, Elena. Berikan saja alamat rumahmu padaku dan aku akan menemukannya dengan sangat mudah. Aku hapal semua nama jalan di kota ini.” Katanya bangga sambil kembali menawarkan ajakan yang tidak terlalu menggiurkan itu padaku.
Aku tidak punya banyak pilihan selain akhirnya mengiyakan ajakan Claudia dengan satu anggukan kecil dan sebuah senyuman yang agak dipaksakan. Aku kembali berpura-pura senang.
Untungnya, Claudia adalah orang yang setipe dengan Dad, mudah dikelabui. Jadi aku yakin Claudia pasti akan percaya dengan bahagia bohongku itu.
“Kau pasti akan sangat menyukainya, Elena! Akan sangat seru nanti malam. Kujemput kau pukul tujuh tepat, jangan sampai lupa!”
Aku mengangguk lagi, entah apa yang akan terjadi nanti malam.
***
“Dad, nanti malam aku pergi ke kafe Redmid. Ada acara musik di sana.” Kataku pada Dad saat dia sedang menyetir mobilnya menuju rumah baru kami tercinta.
“Musik? Acara musik?” Alisnya kemudian bertaut, “Sejak kapan kau mulai menyukai acara musik, Elena?” Aku diam. Sial, Dad benar. Sejak kapan?
“Ah, aku diajak teman baruku. Aku tidak bisa menolak. Formalitas, Dad.” Balasku datar sambil memperhatikan keluar jendela dan menikmati pemandangan jalanan yang sepi.
Raut wajah Dad tiba-tiba berubah senang, “Teman baru? Haha sudah kuduga kau pasti akan cepat mendapatkan teman baru, Elena! Aku sudah tahu!” Seru Dad antusias, “Apa itu teman laki-laki? Yang mengajakmu?” Dad melirik sambil tersenyum jahil.
“Dad?! Tidak! Claudia. Claudia Tesla, dia perempuan Dad. Aku belum berkenalan dengan satu pun pria di sekolahku Dad,” aku berbohong, “Kau tahu kan aku tidak mudah bergaul dengan laki-laki.” Dad tertawa.
“Nanti malam kau pasti akan bertemu dengan banyak kenalan baru, Elena. Pasti banyak lelaki yang akan mengajakmu berkenalan, kau perlu belajar banyak.” Dad tertawa lagi, “Ah, gadis kecilku sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.”
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Dad. Sementara pandanganku masih tertuju ke jalanan. Terpaku di sana.
‘Samael. Samael Black. Laki-laki pertama yang berkenalan denganku hari ini. Kenapa ada bagian dari diriku yang merasa tertarik untuk mengenalmu lebih jauh?’ Batinku, ‘Samael Black? Siapa kau?’
***
Kafe Redmid, pukul tujuh lebih lima belas menit. Ternyata jarak rumahku sampai dengan alun-alun kota tidaklah begitu jauh. Mungkin itu juga karena arus lalu lintas yang tidak terlalu padat malam ini.
Aku turun dari mobil Claudia dengan perasaan was-was yang tidak jelas. Akan ada banyak orang, dan aku tidak mudah bergaul dengan orang-orang. Astaga, aku jadi agak menyesal kenapa aku harus datang ke sini, malam ini.
“Cerialah sedikit, Elena! Malam ini akan seru! Kau tidak akan pernah menyangka betapa terkenalnya kau di kalangan anak-anak di sekolah. Mereka membicarakanmu sepanjang hari!”
Aku mendelik tajam ke arah Claudia yang sedang berjalan santai ke arah pintu masuk dengan hak setinggi tujuh sentinya yang astaga aku pasti tak akan sanggup berdiri jika menggunakan benda itu.
“Apa maksudmu mereka membicarakanku sepanjang hari? Apa itu sesuatu yang buruk?” Tanyaku takut-takut sambil menyusul langkahnya yang cepat-cepat seperti tak sabar ingin masuk ke dalam.
“Tenang saja, bukan hal yang buruk, kau lihat saja nanti.” Lalu Claudia membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk. Aku mengekor di belakangnya.
Ramai sekali di dalam sini. Dan semuanya adalah wajah yang sangat-sangat asing bagiku.
“Hei! Claudia!” Seru seseorang dari sudut ruangan.
“Hei Jared!” Balas Claudia sambil melambaikan tangan sementara tangannya yang satu lagi sibuk menyelipkan rambut merah bergelombangnya di belakang telinganya.
“Aku lihat kau membawa teman baru ke sini,” sahut laki-laki bernama Jared yang sekarang berdiri di hadapanku dan Claudia. Kemudian matanya tertuju ke arahku, “Elena Feroza, senang bisa bertemu denganmu.” Ujarnya sambil menjulurkan tangannya untuk berkenalan denganku.
Aku menyambut tangannya ragu, “Darimana kau…”
“Tahu namamu? Haha hampir satu sekolah sudah mengenalmu, Elena.” Ujarnya sambil terkekeh, “Semua orang tahu kejadian yang menimpamu di hari pertamamu pindah ke kota ini. Aku turut menyesal kau harus mendapatkan kesan pertama yang tidak terlalu baik dari kota ini.” Lanjutnya sambil melirik tangan kiriku yang diperban. Kini aku tahu alasannya kenapa semua mata di kelas tertuju padaku saat aku pertama kali memasuki ruangan. Hebat. Sangat hebat.
“Ah, ya, terima kasih, Jared…”
“Loggan. Namaku Jared Loggan.” Lalu dia menyalami tanganku dengan bersemangat.
“Jared dan teman-temannya akan tampil malam ini, Elle. Dia sangat mahir dengan musik dan sebagainya.” Ujar Claudia yang langsung saja membuatku mendelik padanya.
“Ah, bisa tidak kau memanggilku dengan panggilan yang biasanya. Aku tidak terlalu suka dengan panggilan…”
“Elle?” Potong Jared cepat. Aku mengangguk singkat menanggapi ucapannya.
“Maafkan aku, Elena. Aku tidak bermaksud.” Balas Claudia.
Jared kembali menyela, “Sudahlah lupakan saja, itu hanya masalah kecil. Benar kan Elena?” Katanya sambil melirik ke arahku, “Lebih baik kau mengajaknya berkeliling dan mengenalkannya pada orang-orang, Cloudy.” Lalu Jared tertawa.
“Kau betul sekali, Jared.” Claudia ikut tertawa, “Baiklah ayo Elena, kita berkeliling dan sapa semua orang.” Katanya bersemangat sementara aku sudah menahan napasku.
“Baiklah aku harus pergi dulu, ada beberapa alat yang harus kuperiksa. Sebentar lagi giliranku untuk tampil.” Ujar Jared sambil bersiap untuk pergi, “Nikmati malam ini, Elena. Tenang saja aku akan memukaumu dengan penampilanku nanti.” Kemudian dia mengedipkan sebelah matanya padaku dan berjalan pergi.
Claudia tertawa melihatnya, “Jangan kau hiraukan dia, masih banyak laki-laki yang lebih baik darinya, Elena. Jared tidak baik untukmu. Dia punya obsesi khusus untuk menyakiti hati para gadis.” Ujar Claudia entah benar atau tidak.
“Kau tidak perlu khawatir, aku juga sedang tidak begitu tertarik untuk menjalani hubungan yang seserius itu dengan pria.” Balasku sambil tersenyum sementara itu Claudia sudah mengajakku untuk berkeliling setelah sebelumnya kembali tertawa begitu mendengar komentarku.
Claudia mengenalkanku pada banyak orang. Entah sudah berapa nama yang ia sebut dan berapa wajah yang sudah aku lihat. Aku tidak yakin akan tetap ingat nama mereka jika nanti aku bertemu lagi dengan mereka untuk kedua kalinya.
Aku meminta izin pada Claudia untuk mengambil minuman yang tersedia secara cuma-cuma di salah satu meja yang berada di sudut lain ruangan saat ia sedang memperkenalkan seorang laki-laki dari kelas bahasa yang bernama Smith padaku.
Aku menghela napas, setidaknya aku bisa beristirahat sejenak dari acara temu kenal yang Claudia siapkan untukku malam ini.
Aku baru saja akan menuangkan minuman ke gelasku saat tiba-tiba seseorang menyapaku dengan ramah, “Tak kusangka kau suka acara musik seperti ini.” Kemudian si pemilik suara itu tersenyum ke arahku.
Samael Black, laki-laki pemilik bola mata paling hitam yang pernah aku kenal.
“Aku juga tidak menyangkanya,” kataku jujur. Tiba-tiba saja degup jantungku bertambah cepat tanpa bisa kukendalikan.
“Kau datang sendirian?” Tanyanya sambil ikut menuangkan minuman ke dalam gelas miliknya sendiri.
Aku menggeleng, “Tidak, aku bersama dengan temanku.”
Samael berdeham pelan, “Ah, jadi kau sudah mendapatkan teman baru. Syukurlah.” Kemudian dia tertawa, “Kukira kau ini tipe orang yang sulit bergaul.” Lanjutnya. Aku tersenyum tipis. Samael menebaknya dengan sangat benar. Aku memang sangat sulit bersosialisasi.
“Tidak, kau benar. Aku memang sulit bergaul dan ingatanku tidak terlalu bagus. Sejauh ini aku baru bisa mengingat tiga nama dan tiga wajah termasuk kau.” Mendengarnya Samael kembali tertawa.
“Well, tidak terlalu buruk. Tetaplah berusaha untuk mengingat.” Katanya singkat lalu menyeruput minumannya, begitu juga denganku.
Tiba-tiba seseorang melangkah cepat ke arah kami berdua, Aku dan Samael. Sepertinya sedang sangat terburu-buru.
“Samael,” ujar si pemuda insomnia yang ternyata sudah berada tepat di hadapanku dan Samael. Raut wajahnya menunjukan kecemasan, “Pieter datang malam ini. Sepertinya dia sudah diberi target baru. Jika dia berhasil malam ini, di pertemuan nanti kau akan dimaki habis-habisan karena selalu menunda pekerjaanmu.”
Pieter? Siapa dia?
“Tapi Dean, aku tidak bisa! Aku…” Lalu Samael melirik sekilas ke arahku yang sudah terheran-heran dengan arah pembicaraan mereka, “Kita bicarakan ini di luar. Elena, senang sekali bertemu denganmu malam ini. Tapi aku harus pergi.”
“Baiklah, Sam. Kita harus bergerak cepat. Kalau kau tidak mau Pieter menang lagi, malam ini kita harus menggagalkan aksinya.” Kemudian pemuda insomnia itu juga melirik ke arahku, “Senang bertemu denganmu, Namaku Dean. Dean Larsen.” Ujarnya padaku sambil tersenyum singkat. Wajahnya yang terlihat pucat dan mengantuk kini terlihat lebih manusiawi karena senyumnya.
“Sampai bertemu lagi, Elena. Aku harap aku bisa berbincang-bincang denganmu lagi lain waktu.” Ujar Samael sebelum akhirnya mereka berdua pergi dari hadapanku dan menghilang dibalik pintu masuk kafe Redmid.
Kenapa mereka begitu terburu-buru? Sungguh misterius… Dan membuatku makin tertarik untuk mengetahuinya.
“Elena,” seseorang menepuk bahuku, “Elena kau dengar aku?” Claudia menatapku was-was.
Aku menoleh padanya lalu ternsenyum, “Ah, ya, aku mendengarmu. Ada apa?”
“Laki-laki yang berbincang denganmu barusan, siapa dia? Aku belum pernah melihatnya.” Alisnya kemudian bertaut.
“Dia orang yang sama dengan yang berbincang tadi siang denganku. Samael Black.” Aku menghela napas lega. Ternyata Claudia bisa melihat Samael. Ternyata aku tidak berhalusinasi sama sekali.
“Dia bersekolah di tempat yang sama dengan kita? Aku merasa asing dengannya. Sama sekali belum pernah kulihat.” Kini ia mengusap-ngusap dagunya, setengah berpikir.
“Mungkin kau lupa. Sudahlah nanti juga kau ingat sendiri.” Lalu aku tertawa sementara Claudia mengangguk singkat.
“Kurasa kau benar. Mungkin nanti aku akan mengingatnya.”
Tiba-tiba lampu sorot yang berada di langit-langit ruangan segera menyorot ke arah panggung yang berada tak jauh dari tempatku. Itu Jared dan teman-temannya. Mereka sudah akan tampil.
“Hai Elena!” Jared menyapaku dengan menggunakan mic sambil melambaikan tangannya ke arahku, membuat semua mata kini tertuju padaku, “Lagu pertama ini kutujukan untukmu sebagai ucapan selamat datang di kota Larcangela ini!”
Lalu tepuk tangan riuh terdengar menggema di seluruh ruangan. Orang-orang mulai ramai bersorak sorai sambil tersenyum ke arahku. Uh-oh ini sungguh gawat. Aku tidak suka menarik perhatian.
“Baiklah, kita mulai!” Dan Jared mulai memainkan gitarnya dengan sangat piawai membuat semua orang ikut terbawa dengan permainannya termasuk aku. Sorak sorai semakin ramai sementara waktu sudah berdetak semakin malam.
Aku menghela napas. Ini sambutan paling meriah yang pernah kurasakan seumur hidupku. Semua orang yang ada di sini begitu ramah dengan orang baru sepertiku, entah aku harus bersyukur atau tidak.
Mata tajam.
Seseorang tengah menatapku dengan tajam, aku bisa merasakannya. Bulu kudukku merinding seketika.
Aku melempar pandanganku ke sekeliling ruangan untuk menemukan pemilik mata tajam yang masih menatapku dalam diam.
Aku menemukannya. Seorang laki-laki berpostur tinggi dengan wajah tampan yang berkulit putih pucat dan terlihat kaku bagaikan boneka porselen antik berharga mahal tengah menatapku dengan bola matanya yang berwarna seperti batu topaz.
Tidak ada senyum yang dapat kutemukan dalam raut wajahnya. Sementara itu rambutnya yang berwarna cokelat gelap bergerak anggun beberapa kali karena tertiup udara dari pendingin ruangan yang berada tidak jauh darinya.
Kini pandangannya sudah teralih dariku. Kali ini ia menelusuri Claudia dengan mata elangnya seperti ingin memangsanya hidup-hidup. Aku menelan ludahku susah payah.
Siapa dia?
Kenapa aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat?
Elena, hidupmu mulai tidak karuan.
***
yaaah.. pendek sekali..
oh ya, ada yang salah ketik ya, mbak? mungkin kau salah lihat maksudnya?
aku penasaran aku penasaran aku penasaran aku penasaran aku penasaran aku penasaran aku penasaran aku penasaran aku penasaran..
lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut..
Haha iya maaf ya kalau pendek sekali. Waktu lagi padat2nya terus buntu ide jadilah seperti itu -_-
sibuk mau ujian ya mbak? wah, keren. masih sempet menulis cerita.
#pembaca gak tau diri.
semangat ya mbak.. ditunggu karyanya yang lebih bikin tambah penasaran.
hahaha iyanih udah mau ujian ujian jadinya nulis menulisnya jadi berkurang -_-
iya makasih yaaaa terima kasih udah setia membaca cerita-cerita di blog ini, aku hargain banget
mbak Resty yg cantik, terima kasih ya. Kalo bisa dilanjutin sampai bab 10.