[BISIKAN DAN BAYANGAN]
Kepalaku terasa sangat pusing. Rentetan kejadian aneh yang terus menghampiriku secara bertubi-tubi membuatku hampir kehilangan rasa percayaku akan akal sehat. Hal yang nyata, bukan khayalan atau imajinasi.
Aku berjalan pelan ke arah tempat tidurku dan langsung merebahkan diriku begitu aku sampai di dekatnya. Ruangan kamarku terasa amat gelap karena aku tidak menyalakan lampunya. Aku bahkan tidak tahu cat kamarku ini berwarna apa saking gelapnya. Yang aku tahu, semua barang-barangku sudah diatur dan disusun rapi. sama persis seperti kamarku yang dulu.
Itu yang paling penting.
Aku tidak mau repot-repot menyusun ulang seluruh isi kamarku. Waktuku itu begitu berharga. Apalagi ditambah dengan kondisiku yang bisa dibilang cukup memprihatinkan ini. Kurasa aku tak akan mampu lama-lama berkutat dengan urusan mendekor ulang ruangan itu.
Aku kemudian menolehkan kepalaku ke arah jendela kamarku yang sangat besar. Sedetik setelahnya, tiba-tiba saja cahaya bulan menerobos masuk ke dalam kamarku, membuatnya terlihat agak terang sekarang.
Bersamaan dengan itu, sebuah suara berbisik lembut di telingaku, ‘Itukah targetmu yang selanjutnya? Cukup manis.’
Aku langsung terlonjak dari tidurku.
Suara apa itu? Siapa yang tadi berbicara? Apa ada seseorang di kamarku saat ini?!
Aku yang panik langsung menolehkan kepalaku ke kiri dan kanan dengan sangat cepat.
‘Apa tidak cukup kejadian aneh yang selama ini sudah menimpaku?!’ umpatku kesal dalam hati.
‘Itukah targetmu yang selanjutnya? Cukup manis.’
Kalimat yang berbunyi sama kembali terulang. Tapi kali ini aku dapat memastikan kalau suara itu tidak berasal dari mana-mana. Suara itu berasal dari dalam kepalaku! Ingatanku yang menyuarakan kalimat itu!
Tapi tunggu, sepertinya aku pernah mendengar kalimat itu. Tapi di mana?
Aku lalu menundukkan kepalaku, sembari kedua tanganku memijat-mijat pelan kepalaku.
Lalu tiba-tiba, wajah sang pemuda insomnia muncul begitu saja dari dalam benakku sambil mengatakan kalimat yang tadi sempat terputar di kepalaku. Kemudian wajah pemuda bermatam tajam menyusul. Aku yang hanya membayangkannya kini kembali merinding, entah kenapa.
Aku ingat sekarang!
Si pemuda insomnia itulah yang mengatakan kalimat itu! Itu adalah kalimat yang sempat ia bisikkan ke pemuda bermata tajam sesaat sebelum pandangan mata kami bertemu! Ya, aku sangat yakin dengan hal itu!
Tak berapa lama, aku kembali merebahkan tubuhku. Kulemaskan seluruh persendianku agar tubuhku bisa menjadi lebih rileks.
Kenapa aku bisa tahu ya kalau si pemuda insomnia mengatakn hal tersebut? Bukankah tadi ia berbisik dengan sangat pelan?
Tapi yang lebih penting, sebenarnya apa maksud dari si insomnia mengatakan hal tersebut? Apa yang ia maksud dengan target? Dan kenapa seakan-akan kalimat itu seperti ditujukan kepadaku?
Tiba-tiba saja, ruangan kamarku kembali menjadi gelap. Aku pun tak mengindahkannya karena kupikir itu hal biasa. Mungkin cahaya bulan yang tadi sempat menerobos jendela kamarku kini terhalangi oleh sesuatu. Ya, mungkin terhalangi oleh dedaunan lebat yang memang tadi sempat menutupi cahayanya sebelum akhirnya membiarkannya menerobos.
Tanpa ragu, aku pun menolehkan kepalaku ke arah jendela kamarku membuatku seketika terhenyak saking kagetnya.
Kini, di jendelaku, seseorang berjubah hitam tengah mengamatiku. Walau wajahnya tidak terlihat karena tertutupi oleh tudung kepalanya, tapi aku yakin kalau sosok berjubah itu tengah menatapku lekat-lekat.
Keringat dingin mulai membanjiri tubuhku. Aku ingin berteriak agar Dad segera pergi ke sini—ke kamarku dan menyelamatkanku dari halusinasiku ini. Tapi, begitu aku sadar kalau suaraku sama sekali tak bisa keluar, aku menelan ludahku dengan pahit.
Tubuhku juga sama sekali tak bisa kugerakkan. Seluruh persendianku kini benar-benar lemas bukan semata-mata karena keinginanku sendiri.
Perlahan tapi pasti, sosok berjubah tersebut mendekat ke arahku. Dilangkahkannya kedua kakinya perlahan—walau aku tak yakin kalau mahluk tersebut mempunyai kaki—menuju ke arahku, ke samping tempat tidurku. Jubah hitam panjangnya terseret-seret hingga menimbulkan suara gesekan perlahan pada lantai kamarku yang dilapisi karpet.
Begitu ia sampai di sebelahku, suara gesekan kain itu seketika menghilang lalu berganti dengan kesunyian yang mencekam.
“Elena Feroza…” ia menyebut namaku dengan suara serak dan beratnya, membuatku semakin tenggelam dalam kengerian, “Aku, datang ke sini untuk…” kata-katanya kembali terpotong saat ia secara perlahan-lahan mulai mendekatkan kepalanya yang ditutupi tudung berwarna hitam mendekat ke arah wajahku.
Aku mencoba memejamkan mataku, berharap semua hal gila ini akan terhenti dan kembali normal begitu aku kembali membuka mataku nanti. Tapi sayangnya, aku bahkan terlalu takut untuk memejamkan mataku. Aku takut kalau aku berani memejamkan mataku, aku tak akan mampu membukanya kembali.
Kepala sosok berjubah itu pun akhirnya berhenti bergerak, saat sudah mencapai kurang lebih lima senti dari wajahku. Aku kembali menelan ludahku. Terasa agak sulit sekarang karena tenggorokkanku kini amat sangat kering.
Samar-samar aku dapat melihat dua buah bulatan hitam terang dari dalam tudung mahluk menyeramkan itu—yang masih tetap menatapku lekat-lekat—yang kini aku yakini sebagai mata dari sosok berjubah ini.
Anehnya, walau sedekat ini, aku masih belum bisa melihat wajahnya sama sekali. Aku hanya bisa melihat kedua boa matanya yang hitam, tak lebih.
Sosok berjubah hitam itu pun bergumam pelan, lalu menarik kepala dan tubuhnya menjauh dariku, “Mungkin lain kali…” ujarnya pelan sembari berbalik dan berjalan menjauh—menuju jendela kamarku.
“Hypnos, selesaikan tugasmu…” ujar sosok berjubah hitam itu, entah pada siapa sebelum tiba-tiba dari dinding yang berada tepat di depan tempat tidurku keluar sosok berjubah hitam lainnya.
Perlahan tapi pasti, tangannya mulai terulur ke arahku. Sedetik setelahnya, sosok berjubah hitam kedua yang dipanggil Hypnos mulai berjalan mendekat ke arahku, sementara si jubah hitam yang pertama telah hilang dari ruanganku.
Begitu aku sadar dan kembali terfokus, ternyata aku telah mendapati Hypnos tengah mencengkeram kepalaku kuat dengan tangan kirinya yang tadi terulur.
Aku pun memejamkan mataku sambil berusaha berontak.
Aku—yang sadar kalau tubuhku sudah bisa digerakkan kembali—langsung berteriak sekencang mungkin sambil terus berusaha berontak dari cengkeraman tangan Hypnos yang entah sedang melakukan apa-apa.
Cukup lama aku berteriak sampai tiba-tiba pintu kamarku terbuka hingga membentur dinding dengan nyaring dan lampu kamarku menyala dengan terang.
“Elena? Kau tak apa-apa?” sahut sebuah suara yang sangat-sangat kukenal—Dad.
Tanpa ragu aku pun membuka mataku dan menatap ke arah Dad yang tengah balik menatapku dengan tatapan keheranan.
Dad pun tanpa ragu segera menghampiriku dan segera duduk di pinggiran tempat tidurku sambil mengelus lembut rambutku sementara tangannya yang satu lagi perlahan menyeka air mataku yang entah sejak kapan sudah mengalir keluar.
“Mimpi buruk, sayang?” tanya Dad perhatian sementara aku membalasnya dengan diam.
Perlahan lahan aku menolehkan kepalaku ke arah jendela kamarku dan mendapati jendela kamarku tengah tertutup rapat. Padahal, seingatku tadi jandela kamarku terbuka dengan sangat lebarnya.
“Elena?” panggil Dad kembali membuatku segera menoleh ke arahnya.
Sambil tersenyum kaku, aku berkata pada Dad, “Ya, Dad. Sepertinya aku mimpi buruk. Mimpi yang sangat buruk.”
***
haha…
ayo lanjutkan XD
untuk mbak resti, salam kenal. aku pengagum barumu. sangat menantikan kelanjutan dari cerita ini. kapan ya bab 5 keluar? *gak sabar*
Salam kenal juga!
Makasih udh nyempetin waktu buat baca
Untuk kelanjutan ceritanya… Ahaha ditunggu aja, bisa lama atau cepet, gak bisa janjiin apa apa
lanjutin bab 5, gamau tau secepatnya titik. PENASARAN NIH KAKKKKKK hehehe pislopengaul ^^v
Gak janji yaaa gak janji -_-