Deburan ombak kembali menjadi teman dalam kesepianku. Sayup-sayup suara camar yang kelelahan sehabis mencari makan ikan di laut pun bergaung lembut di telingaku mengiringi merambatnya sang bulan purnama di atas langit yang mulai menghitam.
Awan-awan yang kini tengah berarak-arak menuju sang rembulan sama sekali tak membuatku bahagia atau melompat-lompat girang. Karena tertutup atau tidaknya sang bulan sama sekali tak membantuku untuk tidak berubah.
Di purnama kali ini aku akan tetap berubah, sisik-sisik ikan menjijikan itu akan kembali menutupi sebagian tubuhku dan paru-paruku sama sekali tak akan berfungsi sehingga mungkin saja aku akan mati kehabisan napas kalau tidak cepat-cepat menceburkan diri ke dalam laut.
“Aquinne?” seseorang nampak memanggil namaku keras, membuatku segera menoleh ke arah suara itu berasal.
Aku bergidik ngeri.
Tidak, jangan sekarang. Jangan sampai Aran tahu! Aku harus bersembunyi! Tapi kemana?
Sementara aku tengah bingung memikirkan tentang derap langkah Aran yang semakin mendekat, sisik-sisik ikan berwarna hijau tosca mulai muncul satu per satu di kedua kakiku.
“Aquinne?” Suara Aran kini terdengar lebih kencang memecah debur ombak. Tanpa pikir panjang aku segera menceburkan diriku ke dalam laut, meninggalkan suara sebercikan air yang cukup keras. Tidak! Bagaimana kalau Aran mendengar suara air tadi?
“Aquinne? Kau di mana? Aku mau bercerita padamu tentang sesuatu!” seru Aran keras sementara aku berusaha menyembunyikan sebagian besar tubuhku yang sudah berubah sepenuhnya di balik batuan karang tak jauh dari pinggir dermaga tempat tadi aku sempat merenung.
Aku mengintip sedikit dari balik batuan karang. Kuselipkan rambut keemasanku panjangku di belakang telinga sebelah kananku agar aku dapat melihat lebih jelas.
Di sana, aku melihat Aran dengan wajah kecewanya tengah memandang ke arah bulan yang kini sudah tidak tertutupi awan-awan hitam lagi, “Ini semua gara-gara kau!” Aran berseru keras sambil mengacung-ngacungkan jari telunjuknya kepada bulan yang balas menatapya dalam keheningan.
“Semua gara-gara kau muncul! Karena kau datang, Aquinne sekarang kembali menghilang!” Aran ampak berseru geram pada sang bulan sementara tanpa aku sadari kini bibir mungilku tengah membentuk sebuah senyum sempurna, “Kenapa? Kenapa selalu saja setiap bulan purnama dia menghilang?”
Aku kenal suara merajuk dan tatapan sendu itu. Aku sangat menghapal raut wajah Aran yang seperti itu. Ekspresinya sangat membuatku merasa iba dan lucu di saat yang bersamaan.
Sedetik kemudian, sama seperti malam-malam sebelumnya, Aran kembali mendudukkan tubuh jangkungnya di pinggiran dermaga sambil melemparkan pandangannya, jauh ke arah laut lepas—salah satu dari sekian banyak hal yang sangat disukainya. Berbeda denganku, Aran sangat mencintai laut sementara aku sangat membencinya.
Aran kini telah memejamkan matanya, dan aku tahu, sekaranglah saatnya aku memulai tugasku, menyanyikan nyanyian laut pada Aran yang sangat tergila-gila dengan laut.
Suaraku yang sejernih air mulai mengalun perlahan bersamaan dengan debur ombak pecah yang menjadi pengiring laguku malam ini. Laguku tidak bersyair, hanya berupa gumaman lembut yang kuberi sedikit hiasan di sana dan sini. Tapi entah kenapa Aran sangat menyukainya. Selalu setiap mendengar lagu ini ia pasti akan terlelap hingga besok pagi hingga aku menemukannya tengah terbaring di pinggir dermaga dengan sebuah senyum yang menghiasi wajahnya.
Selalu saja seperti itu. Tapi justru itulah yang aku suka dari dirinya.
Lihat, aku baru bernyanyi sedikit saja dia sudah mulai terkantuk-kantuk. Sebentar lagi, sebentar lagi ia pasti akan tertidur pulas.
“Aquinne…” Aran menyebut namaku dalam bisikan halus sebelum akhirnya ia merebahkan dirinya di dermaga dan tertidur pulas.
Lihat! Betul kan perkataanku? Ia pasti tertidur!