[MATA YANG MENGGODA]
Hanya dalam hitungan satu detik mataku telah terbuka dengan sepenuhnya. Cahaya matahari yang merayap masuk dari jendela menyerbu mataku dengan cepat, membuatku harus menyipitkan mataku.
“Ah, sepertinya ia sudah bangun, Sir.” Ujar suara perempuan yang sama sekali tak pernah kudengar. Kutolehkan kepalaku ke sebelah kananku dan mendapati kalau Dad sedang berdiri di sana—berdampingan dengan seorang perawat yang bisa dibilang cukup manis.
“Ah, kebetulan sekali, Elena. Aku baru saja datang dan ingin menjemputmu. Bagus sekali kau sudah bangun.” Dad berkata dengan amat sangat bersemangat. Ditambah dengan pancaran sinar matahari yang menyirami Dad, ia jadi kelihatan lebih bersinar.
Kulirik lagi jendela yang ada di sebelahku. Entah kenapa sekarang matahari sudah tinggi sekali, “Jam berapa sekarang ini, Dad?” tanyaku.
“Hampir jam setengah satu. Kau tertidur nyenyak sekali. Kurasa kau kelelahan.” Jawabnya sambil terkekeh pelan, “Jadi, apa kau sudah siap untuk menempati rumah barumu, sayang?” tanya Dad masih tetap bersinar.
“Well, uh… kurasa aku siap.” Ujarku sambil berusaha untuk bangun dari tempat tidurku yang beralas kain putih. Dengan sigap, si perawat manis segera membantuku untuk bangun dan turun dari tempat tidur. Padahal, kurasa aku masih bisa melakukannya sendiri.
“Terima kasih.” Ujar Dad sambil tersenyum pada perawat itu karena telah menolongku—aku bersyukur tidak harus mengucapkan basa basi ‘terima kasih’ pada perawat muda itu.
“Sudah tugasku.” Balas perawat tu sambil memamerkan sederet gigi putihnya yang memang dari tadi sudah ia pamer-pamerkan.
Dengan segera aku mengapit lengan Dad dengan tangan kananku yang tidak terluka. Aku tidak mau kalau Dad sampai tertarik dengan perawat aneh itu dan nantinya malah akan menghabiskan waktunya percuma di rumah sakit sial ini.
Baru saja aku ingin menghela napas lega karena telah keluar dari ruangan serba putih, sebelum tiba-tiba perawat itu memanggil Dad dan mengikuti kami keluar ruangan.
“Maaf, Sir. Hampir saja aku lupa. Anda belum melengkapi pembayaran pengobatan putri anda. Apa anda berniat untuk melunasinya sekarang?” tanya perawat itu—sambil tetap tersenyum tentunya.
Dad—tanpa perlu menimbang-nimbang lagi—segera mengiyakan perkataan perawat itu, “Elena, maukah kau… menunggu di sini? Ada beberapa hal yang harus kuurus.” Ujarnya berpura-pura tak enah hati harus meninggalkanku seorang diri.
“Tentu saja Dad, tentu. Pergilah. Aku akan menunggumu di sini, tak usah khawatir.” Ujarku acuh sambil segera berjalan pelan ke salah satu bangku panjang yang ada di lorong. Tanpa dikomando lagi, aku segera duduk dengan manis lalu menoleh ke arah Dad dan tersenyum, “Aku janji tidak akan nakal, Dad.” Ujarku berpura-pura manis.
Melihatku seperti itu, Dad pun tersenyum senang—tentu saja.
“Jangan khawatir sayang, aku tidak akan lama.” Katanya lalu segera berlalu dengan perawat itu yang memimpin jalan.
Aku segera menghela napas panjang saat sosok Dad dan perawat itu sudah agak jauh dari pandanganku. Melelahkan selalu berpura-pura seperti tadi. Kira-kira kapan aku bisa jujur pada diriku sendiri ya?
Aku pun menundukkan wajahku, memfokuskan mataku pada lantai berkeramik putih yang berada tepat di bawah kakiku. Rumah sakit. Ini kali pertama aku harus datang ke tempat ini sebagai pasien. Biasanya selalu Mom yang datang ke tempat ini. Seingatku, Mom punya tubuh yang cukup lemah—sehingga ia harus terbiasa bolak-balik ke rumah sakit.
‘Ah, kenapa aku jadi memikrkan Mom sih?!’ aku baru sadar akan kebodohanku.
Belum tentu dia disana memikirkanku? Mungkin saja ia disana sudah punya ‘Elle’ yang lain untuk dia sayangi. Ya, mungkin saja aku ternyata sudah punya saudara atau saudari tiri. Apa nantinya aku harus membenci mereka? Tidak, kurasa itu tidak perlu. Toh mereka tidak tahu kalau ternyata mereka telah merebut kasih sayang yang seharusnya Mom berikan padaku. Mereka tidak bersalah sama sekali.
Satu detik setelahnya, pikiranku sudah terpenuhi lagi dengan hal yang lain. Kejadian malam itu. Sebenarnya, tengkorak itu apa? Dan truk itu?
Sambil terus memikirkan tentang rangkaian kejadian-kejadian aneh itu aku meraba pelan luka di tangan kiriku yang kini sudah terbalut perban. Masih terasa agak perih, walau tidak separah semalam. Gara-gara pemuda sial itu, aku jadi harus puas mendapatkan sepuluh jahitan di tanganku ini. Betapa hebatnya.
‘Tap… Tap… Tap…’
Terdengar suara langkah kaki. Suara langkah-langkah kaki. Suara yang kurasa terdengar cukup berat, berasal dari sebelah kiriku.
Tanpa pikir panjang aku segera menolehkan pandanganku ke sebelah kiriku, penasaran siapa yang akan muncul.
Dan, dari belokan yang ada di ujung lorong sebelah kiriku itu muncul dua orang pemuda. Tidak, mereka tentu saja tidak seperti pemuda-pemuda tanggung yang beberapa jam lalu hampir merampokku dan Dad. Mereka terlihat cukup berkelas. Walau mereka sebenarnya tidak terlihat seperti itu.
Pemuda yang berjalan di sebelah kanan mempunyai rambut berwarna abu-abu yang memikat dengan belahan pinggir dan gaya yang agak berantakan. Matanya terlihat sendu, dengan garis berwarna hitam dan kantung mata yang menghiasi. Kukira orang itu pasti sangat jarang tidur. Tapi entah kenapa, daya tariknya tetap tak berkurang. Wajahnya tetap terlihat manis dengan hidungnya mancung, dan bibir kemerahannya terlihat cukup tipis dan mungil— sama seperti bentuk bibirku.
Berjalan berdampingan dengannya, seorang pemuda lain yang tingginya kurang lebih sama dengan si pemuda insomnia itu. Laki-laki yang ini mempunyai rambut hitam kelam yang dibiarkan berantakan olehnya—tapi entah kenapa masih tetap terlihat bagus dan menawan.
Matanya tajam.
Itu yang bisa kurasakan saat aku menatap kedua bola mata hitam yang terletak pada wajahnya yang memiliki dagu agak lancip itu. Bibirnya penuh, dan sama sekali tak menmpilkan sedikit senyuman pun. Bibirnya hanya terkatup rapat, seiring dengan langkah kakinya yang terasa berat.
Tanpa kusadari mereka pun sudah mulai berjalan mendekati tempatku duduk. Dalam keheningan yang cukup menyiksa ini, dapat kurasakan kalau perlahan-lahan bulu kuduk di tubuhku mulai meremang. Suhu udara di sekitarku pun terasa semakin dingin dan dingin saja. Dengan segera aku memeluk diriku sendiri, berharap agar aku tidak harus terlalu merasa kedinginan lagi.
Sementara itu, kedua pemuda itu semakin mendekat ke tempatku. Dengan gerakan anggun si pemuda insomnia membisikkan sesuatu ke pemuda bermata tajam yang berjalan di sebelahnya. Setelah pemuda insomnia itu berbisik, pemuda bermata tajam itu segera mengarahkan pandangannya ke arahku, membuatku kaku seketika.
Bola matanya yang hitam itu sungguh menggoda imanku! Memaksaku untuk terus menatap ke arahnya walau kuyakin aku tak akan mampu melakukannya.
Selama kurang lebih tiga detik pandanganku dan pemuda itu bertemu sebelum akhirnya ia mulai berjalan menjauh bersama dengan si pemuda insomnia. Tiga detik yang amat sangat mencekam! Selama tiga detik tadi aku sama sekali tak bergerak sesenti pun. Semua persendianku pun terasa lemas, entah kenapa.
Kedua sosok itu pun semakin menjauh dari pandanganku walau aku masih bisa melihat punggung mereka yang berjalan dengan penuh keanggunan itu. Bulu kuduk di tubuhku yang tadinya meremang pun kini sudah kembali normal.
Satu detik setelahnya, aku segera menarik napas panjang lalu menghembuskannya kembali dengan tempo yang sama seperti saat aku menghirupnya. Perlahan-lahan kuarahkan tangan kananku ke arah dadaku—jantungku.
Dan hasilnya?
Berdetak-detak tak karuan! Sangat cepat!
Sebenarnya ada apa dengan tubuhku ini? Kenapa tubuhku harus mengeluarkan reaksi aneh dengan kedatangan kedua pemuda itu?
“Elena? Sayangku? Ada apa?” suara dan belaian tangan Dad pada rambutku dengan segera membuyarkan lamunanku tentang pemuda-pemuda tadi.
“A—aku tak apa Dad.” Kataku gugup, “Ah, apa urusannya sudah selesai?” tanyaku sambil segera menatap ke arah kedua bola mata Dad yang berwarna biru cerah, tidak seperti mataku yang berwarna cokelat tua—sama seperti Mom.
“Tentu saja sudah. Maafkan aku kalau tadi lama sekali.” Ujar Dad sambil tersenyum.
Dengan cepat aku menggeleng, “Lama? Tidak kok. Kurasa cukup cepat.” Balasku sambil tersenyum.
“Cukup cepat hingga kau bisa sampai tertidur dengan nyenyaknya? Oh, aku lupa. Kalau kau tertidur, pasti semuanya terasa begitu cepat, bukankah begitu sayangku?” ujar Dad sambil membantuku bangun lalu segera menggamit lenganku dan mulai berjalan pelan.
Aku menatapnya bingung, “Aku? Tertidur? Tidak Dad, aku daritadi tetap terjaga.” Balasku sambil melirik ke arah jendela rumah sakit yang berada di sebelah kananku.
Kenapa sekarang langit terlihat berarna merah ya? Bukankah tadi masih sangat terik?
“Dad, jam berapa sekarang?” tanyaku cepat.
“Setengah lima. Kau tadi tertidur kurang lebih empat jam, sayangku. Mungkin kau tidak menyadarinya. Tidak apa kalau kau memang tidak ingat.” Balas Dad sambil tersenyum.
Empat jam?! Aku tertidur selama empat jam?! Bagaimana bisa?!
Aku sama sekali tidak merasa kalau aku telah tertidur! Aku daritadi terus terjaga!
Lalu, bagaimana dengan kedua pemuda yang tadi sempat lewat di depanku itu? Apa saat itu aku hanya bermimpi?
“Well, sayangku, saatnya pergi ke tujuan selanjutnya. Rumah.” Seru Dad sambil tersenyum ke arahku. Oh, tanpa matahari pun Dad masih bisa tetap bersinar!
***
kereeeeeen.. :3
*cma dodolnya td syah slah bca..jdnya bca babnya mundur =w=*
hayoh, lanjutkan! lanjutkaaan
ah, syah pgn ngoreksi, ada kata2 yg slah ketik dikit d bbrapa paragraf.. yh, bkn hal gede kok… lanjutkaaan :3
ah, tidak tidak.
itu bukan kukut yang salah. saya yang salah.
saya masih ga ngerti cara bikin susunan kategorinya. -___-
maklum, baru bikin kemarin.
btw, thanks ya kut !!! X)
g diragukan…
ahaha…
menarik,res…
hehe…
btw,coba deh saran gw di status lu…
hehe…
di paragraf 16 tuh ada salah nulis,yia???
hehe…
tampilan blognya cantik,euy…
ahaha…
@bang igor : apanya yang ga diragukan bang?
btw, makasih ya. menurut saya tampilan blognya keren ! saya aja jatuh cinta sama tampilannya. X)