BAB 2

BAB 2

[KEJADIAN TAK TERDUGA]

Aku menguap agak lebar saat Dad baru saja mengendarai mobilnya keluar dari jalan tol. Perjalanan selama empat jam ini ternyata cukup menyita tenagaku. Aku tidak tahan lagi kalau harus terus duduk selama satu atau dua jam lagi. Untungnya, Dad baru saja mengumumkan padaku kalau tak lama lagi kita akan sampai di tampat tujuan—rumah baru ‘tercinta’.

Hari sudah mulai gelap karena beberapa saat yang lalu, matahari baru saja meluncur turun dari singgasananya. Tak lama, keberadaan matahari yang panas telah terganti oleh bulan yang dingin dan kelam.

Aku menguap lagi, saat mobil yang kukendarai bersama ayahku tercinta mulai memasuki jalan yang tidak terlalu lebar.

Pohon-pohon besar dan berdaun lebat nampak berjejer rapi si sekeliling kami semua, seakan tengah membentengi jalanan dari dunia luar yang penuh cahaya.

Aku melirik sekilas ke arah Dad—menerka-nerka apakah jalan yang kami lalui sekarang adalah benar menuju kota Larchangela. Dan kurasa memang benar, karena beberapa detik sebelumnya mobil kami baru saja melewati sebuah papan petunjuk besar yang berada di sebelah kanan jalan dengan tulisan yang tercetak besar-besar, “SELAMAT DATANG DI KOTA LARCHANGELA!”

Melihatnya, aku hanya bisa menghela napas.

Ternyata memang benar ini jalannya.

Tiba-tiba saja, terdengar suara deruman sepeda motor. Banyak sekali suara mesin sepeda motor. Aku yakin kalau suara-suara yang mengganggu tersebut berasal dari belakang mobil sedan Dad.

Dan ternyata, memang benar.

Tak lama setelah suara deruman itu terdengar, di belakang kami kini telah banyak sekali sepeda-sepeda motor. Masing-masing lampunya menyala dengan sangat terang. Aku sampai harus menyipitkan mataku karena silau.

Aku menoleh ke arah Dad. Aku khawatir kalau-kalau ia jadi tak bisa melihat jalan dengan jelas karena banyaknya cahaya-cahaya dari belakang sana. Tapi melihatnya begitu tenang saat menyetir mobil, perasaan khawatirku hilang seketika itu juga.

Kemampuan menyetir Dad memang tidak boleh dianggap remeh.

Kalau tidak salah, saat Dad masih muda dulu, Dad sering sekali melakukan balapan liar dengan teman-teman SMAnya. Dan Dad, selalu menempati posisi pertama. Menurut Dad, lawan-lawannya yang ada di belakangnya merasa kesal lalu dengan seenaknya menyalakan lampu seterang mungkin sambil berharap Dad akan kesulitan membawa mobilnya.

Tapi ternyata, Dad tetap menang. Tanpa bisa menyembunyikan perasaan kagumku, aku tersenyum lembut ke arah Dad. Sayang Dad tidak sempat untuk menoleh dan melihat senyumku yang ajaib—aku memang jarang tersenyum. Jadi bila aku tersenyum, itu keajaiban namanya.

Motor-motor itu kini melaju tepat di sebelah mobil Dad. Padahal aku yakin mereka semua tahu kalau jalanan yang ada di sebelah kiri itu untuk milik pengguna kendaraan yang berasal dari arah yang berlawanan. Apalagi sekarang baru pukul tujuh malam. Pasti masih banyak mobil-mobil yang berlalu lalang di daerah ini.

Dengan hanya sekali menghitung, aku yakin kalau jumlah motor-motor itu adalah enam buah.

Tak lama, lima dari motor itu memelankan laju motornya, lalu berjalan beriringan tepat di belakang mobil Dad—meninggalkan motor yang satu lagi. Entah ada angin apa, tiba-tiba saja pengendara motor tanpa helm itu menoleh ke jendela mobil Dad dan tersenyum-senyum padaku. Ia membuang semua konsentrasinya pada jalan dan mulai mengajakku berbicara—aku menyesal karena telah membuka kaca mobil saat keluar dari tol tadi

“Hai manis. Mau jalan-jalan denganku?” tanyanya sambil tersenyum-senyum padaku. Teman-temannya tertawa keras saat mendengar kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh pemuda tanggung sial itu.

Aku melirik ke arah Dad, dan sepertinya Dad mengerti. Tanpa dikomando lebih lanjut, Dad mempercepat laju mobilnya, sementara aku buru-buru menutup kaca mobil.

“Hei, kenapa ditutup? Apa kau malu padaku, nona manis? Wajahmu memerah kau tahu!” seru pemuda itu lagi. Padahal kaca mobil telah kututup rapat-rapat, tapi entah kenapa suara pemuda itu masih terdengar sangat keras—berbeda denganku. Volume suaraku amatlah kecil.

Aku melirik Dad lagi. Sepertinya aku sudah cukup ketakutan sekarang karena para berandalan itu masih tetap mengikuti mobil kami dari belakang. Apalagi, sekarang aku juga telah sadar, kawasan rumah baruku adalah kawasan yang cukup sepi saat malam. Bagaimana ini?

“Tenanglah Elena. Mereka tak akan berani macam-macam.” Kata Dad menenangkan.

Aku tak membalas apa pun. Biasanya aku memang lebih banyak diam saat sedang panik.

“Berhenti!” kali ini pemuda itu berteriak sambil menggedor-gedor badan mobil dengan benda yang sepertinya cukup keras.

Benda itu, adalah linggis.

Linggis yang cukup besar, tengah digenggam erat oleh tangan-tangan berotot milik pemuda itu. Aku bergidik ngeri saat melihatnya.

Oke, jadi sekarang kami; aku dan Dad, tengah menjadi target perampokan?

Hebat. Aku suka sekali tinggal di Larchangela.

Baru beberapa menit aku tiba di kota ini, sekarang aku sudah menjadi korban tindak kriminal.

Oh, kenapa aku tiba-tiba jadi merindukan tempat tinggalku yang lama—Folksborne yang muram. Folksbourne yang tenang dan damai!

“Hentikan mobilnya!” seru pemuda itu lagi. Kali ini ia menghantam kaca mobil Dad dengan sangat keras hingga kacanya pun pecah dan berhamburan.

Aku, yang berada tepat di sebelah kaca yang pecah tersebut segera menutup wajahku dengan kedua tanganku. Lenganku terangkat secara reflek hingga menutupi seluruh wajahku. Alhasil, tangankulah yang terkena pecahan-pecahan kaca tersebut. Aku meringis saat kaca-kaca itu menusuk lenganku.

Dad terkejut, dan mulai mempercepat lagi laju mobilnya.

Sementara aku—dengan keberanianku yang hanya sebesar satu butir kacang polong—mencoba mengintip dari celah-celah lenganku yang masih menutupi wajahku.

Dari celah yang amat sangat kecil itu, aku bisa melihat wajah pemuda itu. Ia tersenyum sinis ke arahku. Linggis miliknya—yang baru saja ia gunakan untuk menghancurkan kaca mobil Dad—masih ia genggam erat di tangan kirinya.

Selama dua detik, aku menahan napasku karena kaget. Sepertinya ia masih akan melancarakan serangan lainnya. Apalagi kini teman-teman tercintanya tengah meraung-raungkan motor mereka sambil tertawa-tawa dengan sangat keras.

Tunggu.

Apa itu? kenapa ada sebuah tangan yang terlingkar di leher pemuda itu?

Tidak. Mungkin benda itu tidak tepat bila disebut dengan sebutan tangan. Tidak ada daging yang membalut tangan itu. Benda itu hanyalah sebuah tulang! Lengan tengkorak!

Aku bergidik ngeri saat melihatnya.

Pikiranku melayang-layang dengan cepat saat tulang itu bergerak perlahan-lahan melingkari leher pemuda itu, seperti hendak mencekiknya.

Tidak. Pasti ada alasan-alasan rasional yang tepat untuk menggambarkan fenomena aneh ini. Satu, mungkin saja itu hanya halusinasiku karena aku tengah kesal dengan pemuda brengsek itu sehingga secara tiba-tiba aku mendapati diriku tengah berimajinasi bahwa laki-laki itu akan tercekik mati oleh sebuah tengkorak ajaib. Dua, mungkin saja itu hanya motif baju dari pemuda itu—yang tadi sama sekali tidak aku perhatikan dengan jelas. Atau mungkin saja tiga, itu adalah robot aneh milik pemuda itu.

Aku menggeleng cepat.

Tidak, mana mungkin begitu. Hal-hal itu malah terdengar lebih konyol.

Tak lama, aku lembali memfokuskan lagi pikiranku dan menatap kosong ke arah pemuda itu.

Tangan kiri pemuda itu kembali terangkat. Sepertinya ia bersiap untuk melancarkan serangan yang berikutnya.

Aku kembali mengangkat kedua tanganku—aku sudah sangat pasrah bila harus mati hari ini.

Tiba-tiba saja aku kini melihat ada sebuah tengkorak, berjubah hitam panjang tengah melayang-layang tepat di belakang pemuda itu. Sebuah sabit besar tergenggam di tangan kanannya. Sabit besarnya, kini tengah diarahkan tepat ke arah leher pemuda itu.

Kejadian yang selanjutnya terjadi, sangatlah cepat.

Sesaat setelah tengkorak itu menebas leher pemuda itu dengan sabitnya, dari arah yang berlawanan dengan kami melaju dengan cepat sebuah mobil truk besar yang dengan kerasnya menabrak pemuda itu bersamaan dengan bergemanya bunyi dentuman dan teriakkan panik para pengendara motor liar itu.

Kini, pemuda itu telah hilang dari pandanganku.

Dan aku, hanya bisa tercengang melihatnya. Kuturunkan tanganku perlahan-lahan, lalu menyandarkan tubuhku pada jok mobil yang empuk dan nyaman.

Rasa tak percaya merasuk ke dalam pikiranku. Kepalaku seperti mau pecah. Semuanya terasa berputar-putar cepat.

Tak lama, aku sudah memejamkan mataku.

***

Ini sungguh konyol. Malam pertama di Larchangela malah harus kulewati di rumah sakit Larchangela. Dad langsung cepat-cepat mengantarku ke sini sesaat setelah kejadian menakjubkan beberapa jam yang lalu.

Para polisi itu masih saja sibuk menginterogasi Dad sementara dokter yang ada di hadapanku dengan tenangnya melakukan pekerjaannya; mengeluarkan serpihan-serpihan kaca yang masuk ke dalam kulit lenganku serta menjahit luka-lukaku.

Tidak. Rasanya sama sekali tidak menyakitkan. Aku malah tidak bisa merasakan apa-apa. Mungkin ini pengaruh dari obat bius yang telah disuntikkan padaku.

Suara polisi itu terdengar samar-samar olehku. Dia menanyakan tentang siapa Dad, ada urusan apa, serta hal-hal lainnya yang menurutku kurang begitu penting. Kemudian, para polisi itu juga menayakan tentang kronologi perampokan tersebut. Tentang para pelakunya juga tentang truk aneh yang secara ajaib tiba-tiba muncul dan menyelamatkan aku dan Dad dari para perampok brengsek itu.

Well, pemuda tanggung yang memecahkan kaca mobil Dad memang tewas—menurut yang telah aku dengar. Tapi anehnya, tidak ada tanda-tanda kalau sebuah truk baru saja melintasi tempat yang tadi aku lewati.

Larchangela tidak pernah kedatangan truk! Kendaraan paling besar yang dapat ditemui di kota ini hanyalah pick up sedang atau mobil box kecil! Tidak pernah ada sejarahnya mobil truk beroda delapan meluncur masuk ke dalam kawasan Larchangela!

Lalu, yang tadi kulihat apa?

Yang tadi menabrak pemuda itu hingga tewas apa?

Dengan cepat aku menelan ludahku.

‘Lalu tengkorak berjubah hitam itu apa?’

Tiba-tiba aku sadar, kalau acara penginterogasian ayahku telah selesai. Bersamaan dengan itu pula luka-lukaku telah selesai dijahit. Tanpa ragu Dad pun masuk ke dalam ruanganku dan menghampiriku yang tengah tertidur kaku di atas tempat tidur rumah sakit yang keras.

“Bagaimana luka-lukamu, Elena?” tanya Dad sambil mengelus-elus rambutku penuh perhatian.

“Tidak terlalu buruk. Setidaknya tanganku masih cukup bagus kalau harus digunakan untuk menonjok orang.” Jawabku sambil tersenyum kaku dan mengepalkan tangan kiriku lalu mengangkatnya ke atas—tepat di depan wajah Dad.

Saat itu juga, aku meringis kesakitan. Kurasa sekarang aku tidak boleh terlalu banyak menggerakkan tanganku kalau aku tidak mau jahitanku robek.

“Tak usah memaksakan dirimu, Ell—eh, maksudku, Elena.” Aku mendengus pelan saat menyadari Dad hampir salah menyebut namaku.

“Ya, Dad. Tentu saja aku tidak akan memaksakan diriku.” Kataku sambil tersenyum—walau agak sedikit dipaksakan, “Jadi, apa ada penjelasan yang masuk akal tentang kematian pengendara motor brengsek itu?” tanyaku agak jengkel.

“Para polisi masih akan terus menyelidikinya. Tak usah terlalu dipikirkan. Anggap saja ini semua adalah pengalaman berharga. Aku yakin sampai nanti pun kejadian ini tidak akan pernah kau lupakan.” Ujar Dad sambil mengecup keningku.

“Ya, kujamin, aku tidak akan pernah bisa melupakannya, Dad.” Balasku datar lalu kemudian memejamkan mata.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s