BAB 1

BAB 1

[KEPINDAHAN]

Aku menatap langit yang mulai mendung—berkabut. Berani bertaruh, sebentar lagi hujan akan membasahi tempat ini—kawasan ini, kota kecil yang sudah siap aku tinggalkan, Folksbourn. Dad masih berkemas-kemas di lantai dasar sana, suaranya terdengar sangat nyaring, bahkan  aku yang sedang termenung di kamarku di lantai atas dapat mendengar kegaduhannya.

Aku berdeham pelan sambil masih tetap menikmati sisa-sisa keindahan dari kota kecil ini. Mungkin akan sangat sulit bagiku untuk mengingat keberadaan tempat, suasana bahkan aroma dari tempat terpencil ini. Sebuah tempat di mana aku menghabiskan seluruh masa kecilku yang gelap dan kelam di tempat sepi ini. Kulitku pucat, jarang terkena sinar matahari. Tapi aku yakin, cepat atau lambat kulitku yang bagai hantu ini akan segera berubah warna begitu aku sampai di kota Larchangela—sebuah kota besar yang letaknya bermil-mil jauhnya dari sini. Ya, tempat di mana aku akan pindah dan menjalani kehidupan baruku.

Dad berteriak keras dari bawah sesaat setelah suara deru mobil berbunyi nyaring. Kurasa aku sudah akan berangkat. Aku menoleh ke setiap sudut ruangan. Semuanya sudah terlihat sepi. Sama sekali tak ada yang tersisa dari tempat ini. Setiap detail yang biasanya akan luput dari pandangan orang kini benar-benar kosong. Tak ada satu pun barang yang tertinggal.

Semuanya kecuali satu—kenangan burukku yang akan tetap melekat di tempat ini.

“Turunlah Elena! Aku tahu kau sudah siap!” itulah kata-kata yang baru saja diteriakkan Dad padaku.

Ia bilang aku telah siap. Kurasa ia salah. Aku takkan pernah siap—tidak sampai kapan pun juga. Aku pun hanya mengalihkan pandanganku ke luar jendela, ke bawah sana. Tiba-tiba saja kepala Ayahku—Richard sudah menyembul dari jendela mobil yang memang terpakir tepat di bawah jendela kamarku.

Ia menggoyangkan kepalanya pelan, menyuruhku untuk turun dari lantai dua. Dari kedua bola matanya yang terlihat sendu aku yakin ia pasti menginginkanku untuk bergerak lebih cepat dari tempatku sekarang lalu segera bergegas ke bawah, keluar dari pintu, masuk ke mobil sedan tua itu, lalu segera pergi jauh dari tempat ini—Folksbourn yang muram.

Tadinya aku berpikir untuk langsung melompat saja dari jendela lantai dua ini. Well, kurasa aku akan lebih cepat sampai bukan? Tapi setelah kupikirkan baik-baik, melakukan hal tersebut tidak akan membawaku keluar dari kota kecil ini. Malah aku akan segera diantarkan ke rumah sakit terdekat di daerah ini—atau malah ke pemakaman umum Folksbourn. Jadi aku segera membuang jauh-jauh pikiran itu, lalu bergerak menjauh dari jendela dan berjalan menuju pintu kamarku.

Aku berbalik, dan meraih gagang pintu kamarku, lalu menutupnya pelan. Kemudian aku menyusuri tangga kayu di rumahku, lalu segera bergegas keluar dari pintu rumahku—maksudku, mantan rumahku.

Dengan langkah gontai aku berjalan menuju mobil sedan kecil berwarna hitam yang berada tak jauh dariku. Aku membuka pintunya kasar, masuk ke dalamnya, lalu menutupnya sekenanya. Disebelahku, Dad was was mengawasiku.

“Kau tak membawa apa pun?” tanyanya sambil kembali menstarter ulang mobil sedan yang beberapa saat yang lalu sempat mati.

“Tidak,” kataku cuek lalu segera membuang mukaku ke luar jendela, mengamati hamparan rumput yang mulai basah karena gerimis mulai turun, “Toh semuanya sudah di bawa oleh truk pengangkut. Apa lagi yang bisa kubawa?” kataku dengan nada ketus. Dad menatapku prihatin—aku bisa melihatnya dari pantulan jendela mobil yang mulai tertutup berkabut.

“Elena…” katanya lembut, membuatku terpaksa menoleh ke arahnya, “Kau tahu, kau bisa tetap tinggal di sini kalau kau mau.”

Mendengarnya, aku langsung menggeleng cepat, “Apapun asal bukan di sini. Aku sudah cukup tertekan tinggal di tempat seperti ini.” Aku berbohong. Sebenarnya tinggal di tempat ini lebih baik daripada aku harus memulai semuanya dari awal lagi. Aku melakukan ini hanya untuk membuat Dad bahagia. Aku tahu ia baru saja mendapatkan kenaikan pangkat di tempat kerjanya, yang merupakan sebuah anak perusahaan yang beroperasi di kota kecil ini.

Karena ia naik pangkat, otomatis, ia dipindahtugaskan ke tempat yang lebih baik. Ya, perusahaan utama dari cabang kecil yang ada di sini. Dad sungguh beruntung, dan aku tak mau usahanya selama lima tahun belakangan ini hancur begitu saja karena keegoisanku.

“Apa kau yakin, Elle?” tanya Dad lagi. Kali ini, ia memanggilku dengan panggilan kecilku yang dulu sering digunakan Mom untuk memanggilku.

Hah—Mom. Sudah bertahun-tahun yang lalu dia pergi meninggalkan kami semua; aku dan Dad begitu saja.

Tidak, tentu saja Mom belum meninggal. Kalau dia meninggal, seharusnya aku menunjukkan ekspresi sedih, bukan kesal dan jengkel seperti ini.

Mom, Pergi meninggalkan aku yang baru berumur tiga tahun, untuk menikah lagi—waktu itu Mom dan Dad belum resmi bercerai—dengan laki-laki lain yang kurasa lebih dari segala-galanya bila dibandingkan dengan Dad.

Kalau begitu kenapa ia malah menikah dengan Dad?

Well, Mom ternyata telah terlanjur mengandungku saat ia masih berpacaran dengan Dad. Alhasil, mereka pun menikah—dengan penuh tekanan tentu saja—tanpa persiapan dan dengan amat sangat sedikit cinta.

Seharusnya waktu itu Mom menggugurkan saja kandungannya. Jadi aku tidak perlu repot-repot lahir ke dunia ini dan merasakan ketidakadilan dunia. Kelahiranku toh sama sekali tak membuat Mom dan Dad akur. Malah sebaliknya, selalu saja terjadi konflik di antara mereka.

Dan puncaknya, saat aku menginjak usia tiga tahun.

Mom kebetulan mendapat kenalan seorang teman chatting dan selama kurang lebih tiga bulan perkenalan, Mom dilamar oleh laki-laki sial itu.

Alhasil Mom pun dengan senang hati pergi meninggalkan rumah—tanpa membawaku tentu saja.

Dad bilang, dialah yang menentang agar aku tidak dibawa pergi oleh Mom. Tapi kupikir kenyataanya tidaklah demikian.

Aku yakin Mom terlalu repot bila harus membawaku—bocah berumur tiga tahun yang malang itu—untuk ikut bersamanya, Apalagi waktu itu Mom mengaku masih lajang dan sama sekali belum mempunyai anak.

Dari situlah aku sadar kalau dari awal Mom memang tidak pernah mengharapkanku.

Toh aku sama sekali tidak dianggap olehnya.

Aku mendengus kesal, “Dad, sudah berapa kali kubilang untuk tidak memanggilku dengan nama konyol itu. Aku benci mendengarnya. Terlalu bodoh. Namaku itu Elena—bukan Elle.” Aku melipat tanganku di depan dadaku dan menatap ke arah Dad lekat-lekat.

Dad mengangkat sebelah alisnya lalu berkata dengan enteng, “Well, kurasa sulit untuk menghilangkan kebiasaan lama.” Tangannya memasukkan perseneling mobil, dan tak lama mobil sedan tua ini mulai melaju di tengah hujan deras.

Dad menyalakan lampu mobilnya untuk membantunya melihat di tengah kabut tebal—padahal hari masih agak sore—yang menutupi hampir seluruh wilayah Folksbourne.

Mobil melaju semakin menjauh dan rumah lamaku yang sudah resmi terjual dengan harga lumayan mahal kurang lebih sekitar dua hari yang lalu.

Kasihan sekali orang yag membeli rumah itu.

Dia tidak tahu kalau di dalam rumah yang terlihat biasa-biasa itu tersimpan banyak sekali kenangan buruk milikku. Pasti tempat itu jadi berhantu sekarang—mungkin hanya berhantu untukku.

Aku kembali menatap keluar jendela sambil membiarkan pikiranku kosong tanpa terisi apa-apa.

“Elena, aku yakin kau akan sangat menyukai rumah baru kita. Cuacanya cerah dan ada pantai di daerah itu,” kurasa Dad saat ini sedang mencoba untuk menghiburku. Ia pikir aku tidak suka dengan kepindahan kami, “Sekolah barumu juga kuyakin pasti menyenangkan. Di sana banyak sekali anak-anak muda yang cukup modern. Pasti anak-anak kota besar berbeda bukan dengan anak-anak dari kota kecil seperti Folksbourne? Aku yakin kau akan cepat berteman dengan anak-anak ‘gaul’ itu”

Oh yeah, benar. Anak-anak gaul. Aku pasti akan cepat ‘akrab’ dengan mereka semua.

“Haha,” aku mencoba untuk tertawa—walaupun sepertinya usahaku itu tidak terlalu berhasil untuk menutupi perasaanku yang sesungguhnya—“Ya, berteman dengan anak gaul pasti menyenangkan. Aku berani bertaruh.”

Dad?

Dia hanya tersenyum mendengar perkataanku barusan. Aku yakin ia pasti menganggap dengan sungguh-sungguh perkataanku barusan

Hah—Sial.

***



Advertisement

2 Responses »

  1. cerita yang ini menarik juga. awalnya bagus, karakter ‘aku’ yang penggerutu dan depressed ketangkep, walau masih belum terlalu jelas kenapa dia bersikap seperti itu. apakah kenangan masa lampau–dan tidak ada kenangan recent times lainnya–cukup untuk membuatnya begitu?

    jadi, saya memang sedikit belum paham, karena di satu titik kamu nyebut dia suka pergi dari kota ini, tapi di titik yang lain kamu nyebut bukan dia yang gak suka, melainkan ayahnya (kadang disebut Dad, kadang disebut Richard?).

    but eniwei, it’s a good work. sekarang tinggal liat aja kejutan apa yang mau dihadirkan di cerita ini. :-)

  2. wahaha.. saya juga bingung sama cerita yang satu ini. jujur aja. :D

    nama Dadnya itu RIchard. Richard Feroza.
    Jadi, si Elena ini 50:50 lah. Dia suka pindah dari tempat itu, karena dgn begitu dia bisa ngelupain masa kecilnya yang ‘agak’ suram.

    Tapi di satu sisi, dia juga nggak suka kepindahannya, karena dgn begitu dia harus mulai beradaptasi lagi.

    Begitulah…
    Mohon maklum, saya masih amatir. -___-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s